Senin, 23 September 2013

Pembangunan Transportasi Berbasis Wilayah




FEBRITA OCTAVIA TAMPUBOLON
(3123131018)


Pendidikan Geografi
FIS
Universitas Negeri Medan
2013 













BAB I

PENDAHULUAN

            Indonesia merupakan Negara yang luas, terdiri dari beribu pulau dengan jumlah penduduk yang besar. Semakin meningkatnya pertumbuhan jumlah dan kebutuhan penduduk, semakin meningkat pula kebutuhan tempat atau lahan untuk tempat kegiatan dan tentunya prasarana untuk menunjang dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa lingkungan identik dengan lahan. Sikap serta kebijaksanaan masyarakat terhadap lahan akan menentukan aktifitasnya. Aktifitas itulah yang akan meninggalkan bekas di atas lahan.
            Seiring dengan perkembangan waktu, transportasi dan pengunaan lahan menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan. Dalam konteks pembangunan, transportasi dan penggunaan lahan memiliki tujuan yang terarah dan spesifik. Di dalam sistem transportasi, tujuan pembangunan adalah menyediakan fasilitas untuk pergerakan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain atau dari berbagai pemanfaatan lahan. Sedangkan di dalam penggunaan lahan, tujuan dari pembangunan adalah untuk tercapainya fungsi bangunan dan harus menguntungkan. Melalui makalah ini, kami berusaha untuk memberikan persepsi atau pandangan serta ulasan secara lebih mendalam mengenai aktifitas penggunaan lahan dalam kaitannya dengan aktifitas transportasi. Apakah transportasi menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan aktifitas penggunaan lahan, ataukah sebaliknya, penggunaan lahan menjadi faktor yang mempengaruhi aktifitas transportasi. Pada konteks ini, kami juga akan memberikan ulasan singkat mengenai faktor utama yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dan aktifitas transportasi baik itu di perkotaan maupun di pedesaan.
            Berdasarkan berbagai sumber referensi yang kami pergunakan, definisi Penggunaan Lahan dan Transportasi adalah sebagai berikut. Menurut Vink (1975), ”Lahan merupakan suatu wilayah tertentu di atas permukaan bumi, khususnya meliputi semua benda penyusun biosfer yang dapat dianggap bersifat menetap atau berpindah berada di atas dan di bawah wilayah tersebut, meliputi atmosfer, tanah, batuan induk, topografi, air, tumbuhan-tumbuhan, binatang, serta akibat-akibat kegiatan manusia pada masa lalu maupun sekarang, yang semuanya memiliki pengaruh nyata terhadap penggunaan lahan oleh manusia, pada masa sekarang maupun masa yang akan datang”. Sedangkan definisi Penggunaan Lahan menurut Malingreau (1978), ”Pengunaan Lahan adalah segala macam campur tangan manusia
BAB II

PEMBAHASAN
                                                              
Penggunaan lahan adalah hasil akhir dari aktivitas dan dinamika kegiatan manusia dipermukaan bumi yang bukan berarti berhenti namun tetap masih berjalan (dinamis). Secara umum penggunaan lahan di Indonesia merupakan akibat nyata dari suatu proses yang lama dari adanya interaksi yang tetap, keseimbangan dan dinamis, antara aktifitas-aktifitas penduduk diatas lahan, dan keterbatasan-keterbatasan di dalam lingkungan tempat hidup mereka.
Transportasi merupakan sebuah aktivitas manusia yang berlangsung di permukaan bumi. Transportasi dilakukan atas dasar perbedaan kondisi lingkungan antara daerah satu dengan daerah yang lain baik itu sosial, ekonomi, budaya, maupun sumberdaya alam.           
Terdapat hubungan yang sangat erat antara masyarakat terhadap ruang sebagai wadah kegiatan. Kota sebagai tempat terpusatnya kegiatan masyarakat, akan senantiasa berkembang baik kuantitas maupun kualitasnya, sesuai perkembangan kuantitas dan kualitas masyarakat. Hal tersebut merupakan indikator dinamika serta kondisi pembangunan masyarakat kota tersebut berserta wilayah di sekitarnya. 
Keterkaitan Antara Sistem Transportasi dan Pengembangan Lahan merupakan suatu kajian yang tidak dapat terlepas dari eksistensi ruang dalam studi geografi. Sistem transportasi dan pengembangan lahan (land development) saling berkaitan satu sama lain. Di dalam sistem transportasi, tujuan dari pembangunan adalah menyediakan fasilitas untuk pergerakan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain atau dari berbagai pemanfaatan lahan. Sedangkan di sisi pengembangan lahan, tujuan dari pembangunan adalah untuk tercapainya fungsi bangunan dan harus menguntungkan. Acapkali kedua tujuan tersebut menimbulkan konflik. Hal inilah yang menjadi asumsi mendasar dari analisis dampak keruangan untuk menjembatani kedua tujuan di atas, atau dengan kata lain, Proses pembangunan transportasi dan pengembangan lahan mengikat satu sama lainnya. Pengembangan lahan tidak akan terjadi tanpa sistem transportasi, sedangkan sistem transportasi tidak mungkin disediakan apabila tidak melayani kepentingan ekonomi atau aktivitas pembangunan. Dari asumsi mendasar tersebut, maka perlu kajian yang mendalam mengenai analisis keduanya (transportasi dan penggunaan lahan).
Pembangunan transportasi adalah suatu pembangunan kebutuhan prasarana transportasi seperti jalan, terminal, pelabuhan, pengaturan serta sarana untuk mendukung sistem transportasi yang efisien, aman dan lancar serta berwawasan lingkungan.
Pembangunan transportasi adalah suatu kegiatan pembangunan sistem transportasi yang sistematis yang bertujuan menyediakan layanan transportasi baik sarana maupun prasarananya disesuaikan dengan kebutuhan tranasportasi bagi masyarakat di suatu wilayah serta tujuan-tujuan kemasyarakatan yang lain.
Secara garis besar, transportasi dapat dilihat sebagai suatu sistem dengan 3 komponen utama yang saling mempengaruhi. Ketiga komponen tersebut adalah:

a) sub sistem tata guna lahan
Subsistem ini mengamati penggunaan lahan tempat aktivitas-aktivitas masyarakat dilakukan, seperti tipe, struktur dan ukuran intensitas aktifitas sosial dan ekonomi (berupa : populasi, tenaga kerja, output industri)

b) sub sistem transportasi supply
Sub sistem ini merupakan penyediaan penghubung fisik antara tata guna lahan dan manusia pelaku aktivitas dalam masyarakat. Penyediaan ini meliputi berbagai moda transportasi seperti : jalan raya, rel kereta, rute bus dll, dan menyatakan karakteristik operasional moda tersebut seperti : waktu tempuh, biaya, frekuensi pelayanan.

c) lalu lintas
Lalu lintas merupakan akibat langsung dari interaksi antara tata guna lahan dan transportasi supply yang berupa pergerakan barang dan jasa. Secara umum, hubungan antara tata guna tanah dan transportasi dapat dilihat pada Gambar 5.1. Pembangunan suatu areal lahan akan menyebabkan timbulnya lalu lintas yang akan mempengaruhi prasarana transportasi. Sebaliknya, adanya prasarana transportasi yang baik akan mempengarui pola pemanfaatan lahan. Interaksi ketiga subsistem tersebut, dipengaruhi oleh peraturan dan kebijakan.
Penyediaan prasarana transportasi membutuhkan pembangunan yang komprehensif dan berkelanjutan. Untuk menjamin terlayaninya kebutuhan pergerakan secara optimal, atau tercapainya tujuan penyediaan prasarana tersebut sesuai dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki. Salah satu aspek penting dalam pembangunan transportasi adalah prediksi kebutuhan transportasi di masa yang akan datang.
Pembangunan transportasi itu sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang tujuannya mengembangkan sistem angkutan yang memungkinkan manusia dan barang bergerak atau berpindah tempat dengan aman dan murah.
Kaitannya pembangunan kota dengan pembangunan transportasi, yaitu pembangunan kota mempersiapkan kota untuk menghadapi perkembangan dan mencegah timbulnya berbagai persoalan atau penyakit kota agar kota menjadi suatu tempat kehidupan yang membetahkan dan layak. Sedangkan pembangunan transportasi mempunyai sasaran mengembangkan sistem transportasi yang memungkinkan orang maupun barang bergerak dengan aman, murah, cepat, dan nyaman.
Pembangunan Transportasi Pembangunan transportasi adalah suatu pembangunan kebutuhan prasarana transportasi seperti jalan, terminal, pelabuhan, pengaturan serta sarana untuk mendukung sistem transportasi yang efisien, aman dan lancar serta berwawasan lingkungan.
Permasalahan dalam pembangunan transportasi yaitu pada sifat tansportasi yang lebih sebagai suatu sistem dengan pola interaksi yang kompleks, sehingga pembangunan transportasi dapat menjadi suatu kegiatan yang rumit dan memakan waktu, serta usaha dan sumber daya yang besar. Oleh karena itu dalam pembangunan transportasi dilakukan pembatasan-pembatasan terhadap tingkat maupun lingkup analisisnya, sehingga hasil pembangunan transportasi lebih bersifat indikatif dibandingkan sifat kepastiannya. Pembangunan transportasi ditujukan untuk mengatasi masalah transportasi yang sedang terjadi atau kemungkinan terjadi di masa mendatang. Tujuan pembangunan transportasi adalah untuk mencari penyelesaian masalah transportasi dengan cara yang paling tepat dengan menggunakan sumber daya yang ada.
Dari sisi waktu analisisnya, pembangunan transportasi dapat dibedakan menjadi pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Pembangunan jangka pendek dan menengah umumnya tidak melibatkan pembangunan prasarana berskala besar dengan biaya tinggi. Secara lebih rinci, ketiga jenis pembangunan transportasi tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Pembangunan Jangka Pendek (pembangunan operasional)
Cakupan tingkat pembangunan operasional adalah misalnya membuat denah untuk persimpangan, penyeberangan pejalan kaki. Lokasi parkir, penempatan pemberhentian bus, metode pemberian karcis, langkah-langkah keselamatan dan ketertiban lalu lintas.
2.      Pembangunan Jangka Menengah (pembangunan teknis)
Tingkat pembangunan ini berkaitan dengan penataan pola manajemen lalu lintas, pembuatan jalan local, pengendalian parkir, pengorganisasian angkutan umum, kooedinasi pemberlakuan tariff, membuat kawasan pejalan kaki dan sebagainya. Semua iu memunculkan permasalahan yang kompleks, saling berkaitan dan memiliki efek sampingan. Unuk menanganinya dibutuhkan keahlian dari para professional yang terlatih.
3.      Pembangunan Jangka Panjang (pembangunan strategis)
Berhubungan dengan struktur dan kapasitas jaringan jalan utama dan trasnportasi umum, keterkaitan antara transportasi dan guna lahan, keseimbangan antar permintaan dan penawaran, keterkaitan antara tujuan transportasi dengan ekonomi, tujuan lingkungan dan social kesemuanya merupakan masalah yang sulit untuk dimengerti, meskipun untuk para perencana transportasi professional sekalipun.
Lingkup Pembangunan Transportasi
Lingkup pembangunan transportasi meliputi aspek-aspek yang berkaitan dengan rencana pengembangan wilayah atau daerah. Tipe atau lingkup kajian studi pembangunan transportasi yang dibagi dalam 3 kelompok besar, yaitu:
1. Studi pembangunan prasarana transportasi Penyiapan master plan pelabuhan, bandar udara ataupun terminal antar moda. Penentuan trase jalan raya atau trase rel kereta. Penyiapan master plan pengembangan jaringan jalan. Penyiapan master plan prasarana transportasi bagi suatu daerah permukiman.
2. Studi kebijakan operasional Penyiapan sistem sirkulasi lalu lintas jalan. Strategi pengembangan tingkat pelayanan angkutan umum. Strategi operasional angkutan udara.
3. Studi pembangunan transportasi komprehensif studi kebutuhan prasarana dan sarana transportasi dari suatu rencana pengembangan daerah baru (daerah rekreasi, daerah industri ,ataupun daerah komersial).

Tahapan Proses Pembangunan Transportasi
1.      Pendataan kondisi yang ada, meliputi tata guna lahan, kependudukan, pemilikan kendaraan, lalu-lintas orang da kendaraan, sarana angkut, kegiatan ekonomi, sumber keuangan, dan bangkitan lalu-lintas.
2.      kebijaksanaan pemerintah untuk masa yang akan datang, meliputi pengawasan dan kebijaksanaan pemerintah atas perkembangan pertanahan, serta ciri khas jaringan perhubungan yang akan datang.
3.      perkiraan perkembangan wilayah kota, meliputi taksiran kependudukan, kegiatan ekonomi, pemilihan kendaraan, tata guna lahan, dan jaringan perhubungan di masa yang akan datang.
4.      perkiraan lalu-lintas di masa yang akan datang, meliputi bangkitan lalu-lintas di masa depan, pilihan moda angkutan atau ragam kendaraan, perpindahan antarzone, pembebanan dari pergerakan antarzone ke dalam jaringan transportasi, dan evaluasi.

Tahap pertama proses pembangunan transportasi adalah mengumpulkan informasi. Pendataan dapat dilakukan bersamaan. Analisis data yang telah terkumpul dapat memberikan informasi dasar yang sangat diperlukan untuk mengenali ciri khas pembangkit lalu-lintas. Dari data ini pun dapat ditaksir pertumbuhan wilayah kota.
Taksiran keadaan bangkitan lalu-lintas di masa depan dan pengadaan jaringan transportasi ditentukan berdasarkan data dasar dan dari hasil perkiraan pola pertumbuhan wilayah kota. Dari perkiraan keadaan pembangkit lalu-lintas dan usulan jaringan jalan dapat ditentukan pola lalu-lintas di masa dengan dan diwujudkan dalam sarana tertentu.
Hasil pekerjaan tersebut kemudian dinilai dalam lingkup tingkat pelayanan yang dikehendaki serta konsekuensi perkembangan sosial-ekonomi sebagai akibat usulan jaringan transportasi. Beberapa penyempurnaan mungkin diperlukan, dan informasi yang diperoleh selama usaha tersebut patut digunakan untuk memodifikasi hasil yang telah dicapai pada tahap awal proses pembangunan. Kemudian pola perlalu-lintasan disusun sesuai dengan jaringan transportasi yang telah disempurnakan.
Proses ini berulang terus sampai tercapai hasil yang memuaskan.
Tahapan Kegiatan (Kodoatie, RJ. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur) Komponen utama dalam kegiatan pembangunan transportasi meliputi tahapan sebagai berikut: Formulasi tujuan, sasaran dan lingkup pembangunan: merupakan tahap awal dari pembangunan yang temasuk di dalamnya identifikasi masalah serta pengenalan lokasi pembangunan untuk menentukan metode pembangunan dan kebutuhan data.
Prediksi kondisi masa yang akan datang: termasuk di dalamnya adalah prdiksi besar pergerakan juga pola interaksi serta dampaknya. Analisis hasil prediksi kondisi masa yang akan datang: analisis yang perlu dilakukan tergantung pada tujuan, sasaran dan lingkup pembangunan. Misalnya dapat berbentuk penentuan kebutuhan prasarana, pola operasi atau manajemen sarana-prasarana, dampak peningkatan atau penyediaan prasarana terhadap ekonomi, lingkungan dan sebagainya. Tahapan yang cukup sederhana untuk proses studi pembangunan transportasi lengkap secara rinci adalah terdiri dari beberapa langkah dasar sebagai berikut ini: Penyusunan tujuan dan sasaran pembangunan, yaitu menyajikan suatu pernyataan yang jelas tentang tujuan dan sasaran rencana dengan beberapa indikasi prioritas. Pengumpulan data lapangan, yakni melakukan pengumpulan seluruh data yang diperlukan bagi suatu studi pembangunan transportasi. Identifikasi masalah, yakni mengkaji secara mendalam permasalahan-permasalahan yang ada dan mungkin di masa mendatang.
Penyusunan alternatif pembangunan, yaitu perumusan alternatif-alternatif pembangunan dalam usaha mengantisipasi permasalahan yang ada dan yang dimungkinkan akan ada. Prediksi dampak pembangunan, yaitu melakukan prediksi terhadap komponen-komponen dampak yang mungkin akan timbul di masa mendatang untuk masing-masing alternatif pembangunan. Tahap Evaluasi, yaitu tahapan akhir yang melihat dampak yang dapat diperkirakan pada tahap ini dibanding dengan tujuan dan sasaran pembangunan yang ditetapkan.
Pembangunan Transportasi Jangka Panjang Kegiatan pembangunan transportasi yang paling besar pada tahun-tahun terakhir ini ialah pembangunan transportasi perkotaan, dimana fokus perhatiannya adalah merencanakan prasarana jalan dan transportasi umum untuk masa depan. Dalam bidang pembangunan transportasi perkotaan inilah sebagian besar riset dan pengembangan alat-alat model baru yang telah dilakukan dimana sebagian besar pengalaman dalam pembangunan transportasi jangka panjang telah dikembangkan. Pembangunan transportasi memiliki suatu hirarki sama seperti jenis pembangunan pengambilan keputusan lainnya yang pada satu pihak terikat oleh pertimbangan-pertimbangan transportasi di dalam konteks perkembangan social dan ekonomi nasional serta regional dan pihak lain terikat pula oleh desain dan operasi bagian-bagian tertentu dari system transportasi tersebut.

Peranan Transportasi dalam Tata Ruang Kota dan Wilayah

Pembangunan transportasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan kota dan wilayah. Rencana kota tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola transportasi yang akan terjadi sebagai akibat dari rencana itu sendiri, akan menghasilkan kesemrawutan lalu lintas di kemudian hari. Akibat lebih lanjut adalah meningkatnya jumlah kecelakaan, pelanggaran, dan menurunnya sopan-santun berlalu-lintas, serta meningkatnya pencemaran udara.



Transportasi di dalam Lingkungan Perkotaan
Sektor transportasi merupakan salah satu sektor yang sangat berperan dalam pembangunan ekonomi yang menyeluruh. Perkembangan sektor transportasi akan secara langsung mencerminkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang berjalan. Namun demikian sektor ini dikenal pula sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan dampak terhadap lingkungan dalam cakupan spasial dan temporal yang besar. Transportasi sebagai salah satu sektor kegiatan perkotaan, merupakan kegiatan yang potensial mengubah kualitas udara perkotaan. Perkembangan perkotaan berjalan secara dinamik, mengikuti perkembangan sosial-ekonomi perkotaan itu sendiri. Dengan semakin berkembangnya perkotaan dalam hal wilayah spasial (ruang) dan aktivitas ekonominya, akan semakin besar pula beban pencemaran udara yang dikeluarkan ke atmosfer perkotaan. Dampak ini akan semakin terasa di daerah-daerah pusat kegiatan kota. Transportasi yang berwawasan lingkungan perlu memikirkan implikasi/dampak terhadap lingkungan yang mungkin timbul, terutama pencemaran udara dan kebisingan. Ada tiga aspek utama yang menentukan intensitas dampak terhadap lingkungan, khususnya pencemaran udara dan kebisingan, dan penggunaan energi di daerah perkotaan (Moestikahadi 2000), yaitu:
  1. Aspek pembangunan transportasi (barang dan manusia).
  2. Aspek rekayasa transportasi, meliputi pola aliran moda transportasi, sarana jalan, sistem lalu lintas, dan faktor transportasi lainnya.
  3. Aspek teknik mesin dan sumber energi (bahan bakar) alat transportasi.
Sistem transportasi di perkotaan adalah faktor utama yang menentukan pola ruang (spatial pattern), derajat kesemrawutan, dan tingkat pertumbuhan ekonomi dari suatu daerah perkotaan. Ada tiga jenis utama transportasi yang digunakan orang di perkotaan (Miller 1985) :
  1. Angkutan pribadi (individual transit), seperti mobil pribadi, sepeda motor, sepeda, atau berjalan kaki,
  2. Angkutan masal (mass transit), seperti kereta api, bis, opelet, dan sebagainya.
  3. Angkutan sewaan (para transit), seperti mobil sewaan, taksi yang menjalani rute tetap atau yang disewa untuk sekali jalan, dan sebagainya.
Setiap jenis angkutan mempunyai keuntungan dan kerugian tersendiri. Sistem transportasi perkotaan yang berhasil, memerlukan gabungan dari cara angkutan pribadi, massal, dan sewaan, yang dirancang memenuhi kebutuhan daerah perkotaan tertentu.


Pola Perjalanan di Daerah Perkotaan
Kebanyakan orang memerlukan perjalanan untuk mencapai tempat-tempat tujuan bekerja, bersekolah atau ke tempat-tempat pendidikan yang lain, berbelanja, ke tempat-tempat pelayanan, mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan bersantai di luar rumah, serta banyak tujuan yang lain. Hal yang utama dalam masalah perjalanan adalah adanya hubungan antara tempat asal dan tujuan, yang memperlihatkan adanya lintasan, alat angkut (kendaraan) dan kecepatan. Pola perjalanan di daerah perkotaan dipengaruhi oleh tata letak pusat-pusat kegiatan di perkotaan (permukiman, perbelanjaan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain).

 Kebijakan Transportasi
Pola jaringan jalan dapat mempengaruhi perkembangan tata guna lahan. Jaringan jalan yang direncanakan secara tepat akan merupakan pengatur lalu lintas yang baik. Jadi ada kaitan antara pembangunan kota dengan pembangunan transportasi. Pembangunan kota mempersiapkan kota untuk menghadapi perkembangan dan mencegah timbulnya berbagai persoalan agar kota menjadi suatu tempat kehidupan yang layak. Sedangkan pembangunan transportasi mempunyai sasaran mengembangkan sistem transportasi yang memungkinkan orang atau barang bergerak dengan aman, murah, cepat, dan nyaman, dan mencegah terjadinya kemacetan lalu lintas di jalan-jalan dalam kota. Penyusunan kebijakan transportasi dilakukan oleh Departemen Perhubungan, setelah berkoordinasi dengan beberapa departemen lain yang terkait, misal: Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pertahanan, dan Departemen Keuangan. Selanjutnya pelaksanaan dari kebijakan transportasi tersebut dilakukan secara terpadu oleh unsur-unsur pelaksana di daerah, seperti Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Dinas Bina Marga, Polisi Lalu Lintas, dan instansi lain yang terkait, serta pihak swasta (perusahaan transportasi).

1 komentar: