FEBRITA OCTAVIA TAMPUBOLON
(3123131018)
Pendidikan Geografi
FIS
Universitas Negeri Medan
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan Negara yang luas, terdiri dari beribu
pulau dengan jumlah penduduk yang besar. Semakin meningkatnya pertumbuhan
jumlah dan kebutuhan penduduk, semakin meningkat pula kebutuhan tempat atau
lahan untuk tempat kegiatan dan tentunya prasarana untuk menunjang dalam
memenuhi kebutuhan tersebut. Tidaklah berlebihan jika dikatakan
bahwa lingkungan identik dengan lahan. Sikap serta kebijaksanaan masyarakat
terhadap lahan akan menentukan aktifitasnya. Aktifitas itulah yang akan
meninggalkan bekas di atas lahan.
Seiring dengan perkembangan waktu,
transportasi dan pengunaan lahan menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan.
Dalam konteks pembangunan, transportasi dan penggunaan lahan memiliki tujuan
yang terarah dan spesifik. Di dalam sistem transportasi, tujuan pembangunan
adalah menyediakan fasilitas untuk pergerakan penumpang dan barang dari satu
tempat ke tempat lain atau dari berbagai pemanfaatan lahan. Sedangkan di dalam
penggunaan lahan, tujuan dari pembangunan adalah untuk tercapainya fungsi bangunan
dan harus menguntungkan. Melalui makalah ini, kami berusaha untuk memberikan
persepsi atau pandangan serta ulasan secara lebih mendalam mengenai aktifitas
penggunaan lahan dalam kaitannya dengan aktifitas transportasi. Apakah
transportasi menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan aktifitas
penggunaan lahan, ataukah sebaliknya, penggunaan lahan menjadi faktor yang
mempengaruhi aktifitas transportasi. Pada konteks ini, kami juga akan
memberikan ulasan singkat mengenai faktor utama yang mempengaruhi perubahan
penggunaan lahan dan aktifitas transportasi baik itu di perkotaan maupun di
pedesaan.
Berdasarkan berbagai sumber
referensi yang kami pergunakan, definisi Penggunaan Lahan dan Transportasi
adalah sebagai berikut. Menurut Vink (1975), ”Lahan merupakan suatu wilayah
tertentu di atas permukaan bumi, khususnya meliputi semua benda penyusun
biosfer yang dapat dianggap bersifat menetap atau berpindah berada di atas dan
di bawah wilayah tersebut, meliputi atmosfer, tanah, batuan induk, topografi,
air, tumbuhan-tumbuhan, binatang, serta akibat-akibat kegiatan manusia pada
masa lalu maupun sekarang, yang semuanya memiliki pengaruh nyata terhadap
penggunaan lahan oleh manusia, pada masa sekarang maupun masa yang akan
datang”. Sedangkan definisi Penggunaan Lahan menurut Malingreau (1978),
”Pengunaan Lahan adalah segala macam campur tangan manusia
BAB II
PEMBAHASAN
Penggunaan lahan adalah hasil akhir dari aktivitas dan
dinamika kegiatan manusia dipermukaan bumi yang bukan berarti berhenti namun tetap
masih berjalan (dinamis). Secara umum
penggunaan lahan di Indonesia merupakan akibat nyata dari suatu proses yang
lama dari adanya interaksi yang tetap, keseimbangan dan dinamis, antara
aktifitas-aktifitas penduduk diatas lahan, dan keterbatasan-keterbatasan di
dalam lingkungan tempat hidup mereka.
Transportasi merupakan sebuah aktivitas manusia yang
berlangsung di permukaan bumi. Transportasi dilakukan atas dasar perbedaan
kondisi lingkungan antara daerah satu dengan daerah yang lain baik itu sosial, ekonomi,
budaya, maupun sumberdaya alam.
Terdapat hubungan yang sangat erat antara masyarakat terhadap ruang sebagai
wadah kegiatan. Kota sebagai tempat terpusatnya kegiatan masyarakat, akan
senantiasa berkembang baik kuantitas maupun kualitasnya, sesuai perkembangan
kuantitas dan kualitas masyarakat. Hal tersebut merupakan indikator dinamika
serta kondisi pembangunan masyarakat kota tersebut berserta wilayah di
sekitarnya.
Keterkaitan Antara Sistem Transportasi dan Pengembangan Lahan merupakan
suatu kajian yang tidak dapat terlepas dari eksistensi ruang dalam studi
geografi. Sistem transportasi dan pengembangan lahan (land development) saling
berkaitan satu sama lain. Di dalam sistem transportasi, tujuan dari pembangunan
adalah menyediakan fasilitas untuk pergerakan penumpang dan barang dari satu
tempat ke tempat lain atau dari berbagai pemanfaatan lahan. Sedangkan di sisi
pengembangan lahan, tujuan dari pembangunan adalah untuk tercapainya fungsi
bangunan dan harus menguntungkan. Acapkali kedua tujuan tersebut menimbulkan
konflik. Hal inilah yang menjadi asumsi mendasar dari analisis dampak keruangan
untuk menjembatani kedua tujuan di atas, atau dengan kata lain, Proses pembangunan
transportasi dan pengembangan lahan mengikat satu sama lainnya. Pengembangan
lahan tidak akan terjadi tanpa sistem transportasi, sedangkan sistem
transportasi tidak mungkin disediakan apabila tidak melayani kepentingan
ekonomi atau aktivitas pembangunan. Dari asumsi mendasar tersebut, maka perlu
kajian yang mendalam mengenai analisis keduanya (transportasi dan penggunaan
lahan).
Pembangunan transportasi adalah suatu pembangunan kebutuhan prasarana transportasi seperti jalan, terminal, pelabuhan, pengaturan serta sarana untuk
mendukung sistem transportasi yang efisien, aman dan lancar serta berwawasan
lingkungan.
Pembangunan
transportasi adalah suatu kegiatan pembangunan sistem transportasi yang
sistematis yang bertujuan menyediakan layanan transportasi baik sarana maupun
prasarananya disesuaikan dengan kebutuhan tranasportasi bagi masyarakat di
suatu wilayah serta tujuan-tujuan kemasyarakatan yang lain.
Secara garis
besar, transportasi dapat dilihat sebagai suatu sistem dengan 3 komponen utama
yang saling mempengaruhi. Ketiga komponen tersebut adalah:
a) sub sistem tata guna
lahan
Subsistem ini
mengamati penggunaan lahan tempat aktivitas-aktivitas masyarakat dilakukan,
seperti tipe, struktur dan ukuran intensitas aktifitas sosial dan ekonomi
(berupa : populasi, tenaga kerja, output industri)
b) sub sistem transportasi
supply
Sub sistem ini
merupakan penyediaan penghubung fisik antara tata guna lahan dan manusia pelaku
aktivitas dalam masyarakat. Penyediaan ini meliputi berbagai moda transportasi
seperti : jalan raya, rel kereta, rute bus dll, dan menyatakan karakteristik
operasional moda tersebut seperti : waktu tempuh, biaya, frekuensi pelayanan.
c) lalu lintas
Lalu lintas
merupakan akibat langsung dari interaksi antara tata guna lahan dan
transportasi supply yang berupa pergerakan barang dan jasa. Secara umum,
hubungan antara tata guna tanah dan transportasi dapat dilihat pada Gambar 5.1.
Pembangunan suatu areal lahan akan menyebabkan timbulnya lalu lintas yang akan
mempengaruhi prasarana transportasi. Sebaliknya, adanya prasarana transportasi
yang baik akan mempengarui pola pemanfaatan lahan. Interaksi ketiga subsistem
tersebut, dipengaruhi oleh peraturan dan kebijakan.
Penyediaan
prasarana transportasi membutuhkan pembangunan yang komprehensif dan
berkelanjutan. Untuk menjamin terlayaninya kebutuhan pergerakan secara optimal,
atau tercapainya tujuan penyediaan prasarana tersebut sesuai dengan kemampuan
sumber daya yang dimiliki. Salah satu aspek penting dalam pembangunan
transportasi adalah prediksi kebutuhan transportasi di masa yang akan datang.
Pembangunan transportasi
itu sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang tujuannya
mengembangkan sistem angkutan yang memungkinkan manusia dan barang bergerak
atau berpindah tempat dengan aman dan murah.
Kaitannya pembangunan
kota dengan pembangunan transportasi, yaitu pembangunan kota mempersiapkan kota
untuk menghadapi perkembangan dan mencegah timbulnya berbagai persoalan atau
penyakit kota agar kota menjadi suatu tempat kehidupan yang membetahkan dan
layak. Sedangkan pembangunan transportasi mempunyai sasaran mengembangkan
sistem transportasi yang memungkinkan orang maupun barang bergerak dengan aman,
murah, cepat, dan nyaman.
Pembangunan
Transportasi Pembangunan transportasi adalah suatu pembangunan kebutuhan
prasarana transportasi seperti jalan, terminal, pelabuhan, pengaturan serta
sarana untuk mendukung sistem transportasi yang efisien, aman dan lancar serta
berwawasan lingkungan.
Permasalahan
dalam pembangunan transportasi yaitu pada sifat tansportasi yang lebih sebagai
suatu sistem dengan pola interaksi yang kompleks, sehingga pembangunan
transportasi dapat menjadi suatu kegiatan yang rumit dan memakan waktu, serta
usaha dan sumber daya yang besar. Oleh karena itu dalam pembangunan
transportasi dilakukan pembatasan-pembatasan terhadap tingkat maupun lingkup
analisisnya, sehingga hasil pembangunan transportasi lebih bersifat indikatif
dibandingkan sifat kepastiannya. Pembangunan transportasi ditujukan untuk
mengatasi masalah transportasi yang sedang terjadi atau kemungkinan terjadi di
masa mendatang. Tujuan pembangunan transportasi adalah untuk mencari
penyelesaian masalah transportasi dengan cara yang paling tepat dengan
menggunakan sumber daya yang ada.
Dari sisi waktu
analisisnya, pembangunan transportasi dapat dibedakan menjadi pembangunan
jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Pembangunan jangka pendek
dan menengah umumnya tidak melibatkan pembangunan prasarana berskala besar
dengan biaya tinggi. Secara lebih rinci, ketiga jenis pembangunan transportasi
tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Pembangunan
Jangka Pendek (pembangunan operasional)
Cakupan tingkat pembangunan operasional adalah misalnya
membuat denah untuk persimpangan, penyeberangan pejalan kaki. Lokasi parkir,
penempatan pemberhentian bus, metode pemberian karcis, langkah-langkah
keselamatan dan ketertiban lalu lintas.
2.
Pembangunan
Jangka Menengah (pembangunan teknis)
Tingkat pembangunan
ini berkaitan dengan penataan pola manajemen lalu lintas, pembuatan jalan
local, pengendalian parkir, pengorganisasian angkutan umum, kooedinasi pemberlakuan
tariff, membuat kawasan pejalan kaki dan sebagainya. Semua iu memunculkan
permasalahan yang kompleks, saling berkaitan dan memiliki efek sampingan. Unuk
menanganinya dibutuhkan keahlian dari para professional yang terlatih.
3.
Pembangunan
Jangka Panjang (pembangunan strategis)
Berhubungan
dengan struktur dan kapasitas jaringan jalan utama dan trasnportasi umum,
keterkaitan antara transportasi dan guna lahan, keseimbangan antar permintaan
dan penawaran, keterkaitan antara tujuan transportasi dengan ekonomi, tujuan
lingkungan dan social kesemuanya merupakan masalah yang sulit untuk dimengerti,
meskipun untuk para perencana transportasi professional sekalipun.
Lingkup Pembangunan
Transportasi
Lingkup pembangunan
transportasi meliputi aspek-aspek yang berkaitan dengan rencana pengembangan
wilayah atau daerah. Tipe atau lingkup kajian studi pembangunan transportasi
yang dibagi dalam 3 kelompok besar, yaitu:
1. Studi pembangunan
prasarana transportasi Penyiapan master plan pelabuhan, bandar udara ataupun
terminal antar moda. Penentuan trase jalan raya atau trase rel kereta.
Penyiapan master plan pengembangan jaringan jalan. Penyiapan master plan
prasarana transportasi bagi suatu daerah permukiman.
2. Studi kebijakan
operasional Penyiapan sistem sirkulasi lalu lintas jalan. Strategi pengembangan
tingkat pelayanan angkutan umum. Strategi operasional angkutan udara.
3. Studi pembangunan
transportasi komprehensif studi kebutuhan prasarana dan sarana transportasi
dari suatu rencana pengembangan daerah baru (daerah rekreasi, daerah industri
,ataupun daerah komersial).
Tahapan Proses Pembangunan Transportasi
1.
Pendataan
kondisi yang ada, meliputi tata guna lahan, kependudukan, pemilikan kendaraan,
lalu-lintas orang da kendaraan, sarana angkut, kegiatan ekonomi, sumber
keuangan, dan bangkitan lalu-lintas.
2.
kebijaksanaan
pemerintah untuk masa yang akan datang, meliputi pengawasan dan kebijaksanaan
pemerintah atas perkembangan pertanahan, serta ciri khas jaringan perhubungan
yang akan datang.
3.
perkiraan
perkembangan wilayah kota, meliputi taksiran kependudukan, kegiatan ekonomi,
pemilihan kendaraan, tata guna lahan, dan jaringan perhubungan di masa yang
akan datang.
4.
perkiraan
lalu-lintas di masa yang akan datang, meliputi bangkitan lalu-lintas di masa
depan, pilihan moda angkutan atau ragam kendaraan, perpindahan antarzone,
pembebanan dari pergerakan antarzone ke dalam jaringan transportasi, dan
evaluasi.
Tahap pertama
proses pembangunan transportasi adalah mengumpulkan informasi. Pendataan dapat
dilakukan bersamaan. Analisis data yang telah terkumpul dapat memberikan
informasi dasar yang sangat diperlukan untuk mengenali ciri khas pembangkit
lalu-lintas. Dari data ini pun dapat ditaksir pertumbuhan wilayah kota.
Taksiran
keadaan bangkitan lalu-lintas di masa depan dan pengadaan jaringan transportasi
ditentukan berdasarkan data dasar dan dari hasil perkiraan pola pertumbuhan
wilayah kota. Dari perkiraan keadaan pembangkit lalu-lintas dan usulan jaringan
jalan dapat ditentukan pola lalu-lintas di masa dengan dan diwujudkan dalam
sarana tertentu.
Hasil pekerjaan
tersebut kemudian dinilai dalam lingkup tingkat pelayanan yang dikehendaki
serta konsekuensi perkembangan sosial-ekonomi sebagai akibat usulan jaringan transportasi.
Beberapa penyempurnaan mungkin diperlukan, dan informasi yang diperoleh selama
usaha tersebut patut digunakan untuk memodifikasi hasil yang telah dicapai pada
tahap awal proses pembangunan. Kemudian pola perlalu-lintasan disusun sesuai
dengan jaringan transportasi yang telah disempurnakan.
Proses ini
berulang terus sampai tercapai hasil yang memuaskan.
Tahapan Kegiatan (Kodoatie, RJ. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur) Komponen utama dalam kegiatan pembangunan transportasi meliputi tahapan sebagai berikut: Formulasi tujuan, sasaran dan lingkup pembangunan: merupakan tahap awal dari pembangunan yang temasuk di dalamnya identifikasi masalah serta pengenalan lokasi pembangunan untuk menentukan metode pembangunan dan kebutuhan data.
Tahapan Kegiatan (Kodoatie, RJ. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur) Komponen utama dalam kegiatan pembangunan transportasi meliputi tahapan sebagai berikut: Formulasi tujuan, sasaran dan lingkup pembangunan: merupakan tahap awal dari pembangunan yang temasuk di dalamnya identifikasi masalah serta pengenalan lokasi pembangunan untuk menentukan metode pembangunan dan kebutuhan data.
Prediksi
kondisi masa yang akan datang: termasuk di dalamnya adalah prdiksi besar
pergerakan juga pola interaksi serta dampaknya. Analisis hasil prediksi kondisi
masa yang akan datang: analisis yang perlu dilakukan tergantung pada tujuan,
sasaran dan lingkup pembangunan. Misalnya dapat berbentuk penentuan kebutuhan
prasarana, pola operasi atau manajemen sarana-prasarana, dampak peningkatan
atau penyediaan prasarana terhadap ekonomi, lingkungan dan sebagainya. Tahapan
yang cukup sederhana untuk proses studi pembangunan transportasi lengkap secara
rinci adalah terdiri dari beberapa langkah dasar sebagai berikut ini:
Penyusunan tujuan dan sasaran pembangunan, yaitu menyajikan suatu pernyataan
yang jelas tentang tujuan dan sasaran rencana dengan beberapa indikasi
prioritas. Pengumpulan data lapangan, yakni melakukan pengumpulan seluruh data
yang diperlukan bagi suatu studi pembangunan transportasi. Identifikasi
masalah, yakni mengkaji secara mendalam permasalahan-permasalahan yang ada dan
mungkin di masa mendatang.
Penyusunan
alternatif pembangunan, yaitu perumusan alternatif-alternatif pembangunan dalam
usaha mengantisipasi permasalahan yang ada dan yang dimungkinkan akan ada.
Prediksi dampak pembangunan, yaitu melakukan prediksi terhadap
komponen-komponen dampak yang mungkin akan timbul di masa mendatang untuk
masing-masing alternatif pembangunan. Tahap Evaluasi, yaitu tahapan akhir yang
melihat dampak yang dapat diperkirakan pada tahap ini dibanding dengan tujuan
dan sasaran pembangunan yang ditetapkan.
Pembangunan
Transportasi Jangka Panjang Kegiatan pembangunan transportasi yang paling besar
pada tahun-tahun terakhir ini ialah pembangunan transportasi perkotaan, dimana
fokus perhatiannya adalah merencanakan prasarana jalan dan transportasi umum
untuk masa depan. Dalam bidang pembangunan transportasi perkotaan inilah
sebagian besar riset dan pengembangan alat-alat model baru yang telah dilakukan
dimana sebagian besar pengalaman dalam pembangunan transportasi jangka panjang
telah dikembangkan. Pembangunan transportasi memiliki suatu hirarki sama
seperti jenis pembangunan pengambilan keputusan lainnya yang pada satu pihak
terikat oleh pertimbangan-pertimbangan transportasi di dalam konteks
perkembangan social dan ekonomi nasional serta regional dan pihak lain terikat
pula oleh desain dan operasi bagian-bagian tertentu dari system transportasi
tersebut.
Peranan Transportasi dalam Tata
Ruang Kota dan Wilayah
Pembangunan
transportasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan kota dan
wilayah. Rencana kota tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola transportasi yang
akan terjadi sebagai akibat dari rencana itu sendiri, akan menghasilkan
kesemrawutan lalu lintas di kemudian hari. Akibat lebih lanjut adalah
meningkatnya jumlah kecelakaan, pelanggaran, dan menurunnya
sopan-santun berlalu-lintas, serta meningkatnya pencemaran udara.
Transportasi
di dalam Lingkungan Perkotaan
Sektor
transportasi merupakan salah satu sektor yang sangat berperan dalam pembangunan
ekonomi yang menyeluruh. Perkembangan sektor transportasi akan secara langsung
mencerminkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang berjalan. Namun demikian
sektor ini dikenal pula sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan dampak
terhadap lingkungan dalam cakupan spasial dan temporal yang besar. Transportasi
sebagai salah satu sektor kegiatan perkotaan, merupakan kegiatan yang potensial
mengubah kualitas udara perkotaan. Perkembangan perkotaan berjalan secara
dinamik, mengikuti perkembangan sosial-ekonomi perkotaan itu sendiri. Dengan
semakin berkembangnya perkotaan dalam hal wilayah spasial (ruang) dan aktivitas
ekonominya, akan semakin besar pula beban pencemaran udara yang dikeluarkan ke
atmosfer perkotaan. Dampak ini akan semakin terasa di daerah-daerah
pusat kegiatan kota. Transportasi yang berwawasan lingkungan perlu memikirkan
implikasi/dampak terhadap lingkungan yang mungkin timbul, terutama pencemaran
udara dan kebisingan. Ada tiga aspek utama yang menentukan intensitas dampak
terhadap lingkungan, khususnya pencemaran udara dan kebisingan, dan penggunaan
energi di daerah perkotaan (Moestikahadi 2000), yaitu:
- Aspek pembangunan transportasi (barang dan manusia).
- Aspek rekayasa transportasi, meliputi pola aliran moda transportasi, sarana jalan, sistem lalu lintas, dan faktor transportasi lainnya.
- Aspek teknik mesin dan sumber energi (bahan bakar) alat transportasi.
Sistem transportasi di perkotaan adalah faktor utama yang
menentukan pola ruang (spatial pattern), derajat kesemrawutan, dan tingkat
pertumbuhan ekonomi dari suatu daerah perkotaan. Ada tiga jenis utama
transportasi yang digunakan orang di perkotaan (Miller 1985) :
- Angkutan pribadi (individual transit), seperti mobil pribadi, sepeda motor, sepeda, atau berjalan kaki,
- Angkutan masal (mass transit), seperti kereta api, bis, opelet, dan sebagainya.
- Angkutan sewaan (para transit), seperti mobil sewaan, taksi yang menjalani rute tetap atau yang disewa untuk sekali jalan, dan sebagainya.
Setiap jenis
angkutan mempunyai keuntungan dan kerugian tersendiri. Sistem transportasi
perkotaan yang berhasil, memerlukan gabungan dari cara angkutan pribadi,
massal, dan sewaan, yang dirancang memenuhi kebutuhan daerah perkotaan
tertentu.
Pola
Perjalanan di Daerah Perkotaan
Kebanyakan orang
memerlukan perjalanan untuk mencapai tempat-tempat tujuan bekerja, bersekolah
atau ke tempat-tempat pendidikan yang lain, berbelanja, ke tempat-tempat
pelayanan, mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan bersantai di
luar rumah, serta banyak tujuan yang lain. Hal yang utama
dalam masalah perjalanan adalah adanya hubungan antara tempat asal dan tujuan,
yang memperlihatkan adanya lintasan, alat angkut (kendaraan) dan kecepatan. Pola
perjalanan di daerah perkotaan dipengaruhi oleh tata letak pusat-pusat kegiatan
di perkotaan (permukiman, perbelanjaan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan
lain-lain).
Kebijakan Transportasi
Pola jaringan
jalan dapat mempengaruhi perkembangan tata guna lahan. Jaringan jalan yang
direncanakan secara tepat akan merupakan pengatur lalu lintas yang baik. Jadi
ada kaitan antara pembangunan kota dengan pembangunan transportasi. Pembangunan
kota mempersiapkan kota untuk menghadapi perkembangan dan mencegah timbulnya
berbagai persoalan agar kota menjadi suatu tempat kehidupan yang layak.
Sedangkan pembangunan transportasi mempunyai sasaran mengembangkan sistem
transportasi yang memungkinkan orang atau barang bergerak dengan aman, murah,
cepat, dan nyaman, dan mencegah terjadinya kemacetan lalu lintas di jalan-jalan
dalam kota. Penyusunan kebijakan transportasi dilakukan oleh Departemen
Perhubungan, setelah berkoordinasi dengan beberapa departemen lain yang
terkait, misal: Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen
Pertahanan, dan Departemen Keuangan. Selanjutnya pelaksanaan dari kebijakan
transportasi tersebut dilakukan secara terpadu oleh unsur-unsur pelaksana di
daerah, seperti Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Dinas Bina Marga, Polisi
Lalu Lintas, dan instansi lain yang terkait, serta pihak swasta (perusahaan
transportasi).

Makasih udah share sob, blog yang bermanfaat ........................
BalasHapusbisnistiket.co.id