Makalah Kelompok Bahasa
Indonesia
PENULISAN KARYA ILMIAH

Atikah
Diego
Febrita Octavia
Frislin Hutapea
B Reguler 2012
Pend. Geografi
FIS
UNIMED
2014
KATA PENGANTAR
Diawali
dengan ungkapan rasa syukur ke hadiran Tuhan Yang Maha Kuasa, dan izin-Nya
makalah ini dapat diselesaikan. Dengan adanya makalah ini, dapat diharapkan
membantu pembaca, khususnya kalangan mahasiswa yang sedang menjalani mata
kuliah umum Bahasa Indonesia.
“PENULISAN
KARYA ILMIAH” ini menuntun mahasiswa/i mengerti tentang karya ilmiah dan
bagaimana membuat suatu karya ilmiah. Memang tim penyusun sudah merancang isi
buku yang dapat dimengerti oleh pembaca khususnya kaum mahasiswa.
Makalah
ini disusun dan diselesaikan berdasarkan beberapa kali penyempurnaan terkait
dari beberapa sumber buku yang jelas yang diambil dari tim penyusun. Dengan
disajikannya teori, panduan, dan contoh dalam makalah ini, diharapkan mahasiswa
dapat mengerti mengenai Penulisan Karya Ilmiah
Dalam
pengerjaan makalah ini, pastilah tim kami memiliki kekurangan, baik itu dalam
penyusunan, maupun isi dari makalah ini. Oleh karena itu, dalam segala bentuk
kekurangan tim kami, kami mohon maaf, dan kami berharap pembaca dapat memberi saran
dan kiritik yang positif, agar menjadi perbaikan untuk kami kedepannya.
Demikianlah
prakata dari tim penulis, semoga makalah memberi manfaat bagi pembaca.
Medan, September 2014
Tim
penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Karangan
faktawi memuat infomasi sesuai dengan fakta senyatanya yang terutama
dimaksudkan untuk memberikan keterangan dan penjelasan kepada pembaca. Salah
satu jenis karangan faktawi ialah karangan ilmiah.
Kata karya dapat diartikan dengan hasil perbuatan atau
ciptaan (terutama hasil karangan). Lalu kata ilmiah dapat diartikan
dengan bersifat ilmu atau memenuhi syarat ilmu pengetahuan . Jadi, dapat
dinyatakan bahwa karya ilmiah adalah karangan yang bersifat ilmu untuk memenuhi
syarat ilmu pengetahuan.
Penelitian
ilmiah adlaah upaya untuk menjelaskan fenomena nyata yang kita almi dengan
menetpkan prinsip umum untuk menerangkannya. Sesuai dengan harapan, ilmu doaat
memprediksi fenomena tersebut. Prinsip ilmu dinyatakan secara eksplisit dalam
teori yang berangkat dari suatu fakta empiris.
Menjelaskan
fakta empiris, ilmuwan memerlukan sistem konsep yang teratur. Ilmu tanpa
dilandasi konsep adalah mustahil, karena
tidak masuk akal. Sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal, bukanlah ilmu.
Konsep diperlukan bagi ilmu, berarti dimungkinkannya sesuatu masalah
didefinisikan dan dibentuk unsur ilmiahnya.
Pada
dasarnya, dalam penelitian ilmiah, penjelasan deskriptf fenomena bisa
dinyatakan melalui kata-kata tidak bersifat teknis. Perkembangan ilmu mencakup
perkembangan sitem spekulasi (spekulasi dlam arti berfikir) hal ini merupakan
daya abstraksi, atau konsep dan terminologi yang fundamental, jauh dari
disiplin ilmu sebenarnya.Pendefinisian konsep dan perumusan teori berlangsung
setiap saat. Hal ini merupakan langkah yang diperlukan dalam konsep, merupakan
suatu keperluan mendasar meski hanya dan berpuncak pada terbentuknya teori.
Konsep adalah unsur yang tidak bisa dihilangkan dari teori atau sistem
teoritis.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa karya ilmiah adalah karangan yang
pembicaraannya bersifat objektif, berdasarkan data dan penyimpulan-penemuan di
dalamnya berpola induktif dan deduktif serta pembahasan datanya berdasarkan
rasio. Tujuannya dapat
bermacam-macam dalam kaitannya dengan pendidikan dan penelitian seperti
misalnya untuk penilian kelulusan, sebagai bahan dalam proses belajar-mengajar,
menjadi sarana baca untuk mendalami suatu cabang ilmu, dan untuk menyajikan
hasil penelitian dalam pertemuan ilmuwan.
Menurut
perumusan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization
(UNESCO), suatu naskah dapat digolongkan dalam pengertian karangan ilmiah asli
bilamana karangan itu ditulis sedemikian rupa sehingga seorang peneliti yang
bergerak dlaam lapangan ilmiah yang sama dengan hanya beradasarkan informasi
yang diperoleh dari naskah itu dapat:
a.
Memprodusir
percobaan-percobaan serta menjamin hasil dengan tepat atau dengan batas-batas
kegagalan percobaan seperti yang dijelaskan oleh penulias dalam karangan
b.
Mengulaangi
pandangan penulis serta pendapatnya,
c.
Memeriksa kembali
ketelitian dan menarik kesimpulan pendapat yang sama dari penulis,
BAB II
ISI
A.
Ciri dan Macam
Karangan Ilmiah
Karangan
ilmiah merupakan jenis karangan yang terutama mengenai sesuatu topik keilmuan
dan umumnya kepada masyarakat pembaca yang berkecimpung dalam bidang
pengetahuan ilmiah yang bersangkutan. Tata cara pemaparan dan bentuk susunan
karangan ilmiah harus mengikuti pola, tata tertib, dan kelaziman yang berlkaku
pada masyarakat ilmuwan.
Pembahasan
lebih mendalam terhadaop arangan ilmiah menunjukkan bahwa jenis karangan ini
harus memenuhi ciri-ciri tertentu sebagai peryaratan utama. Sebagai contoh, W.
Paul., Jones (Writing Scientific Papers
and Reports 1959) mensyaratkan 10
ciri karangan ilmiah hendaknya;
a.
Menyajikan
fakta-fakta
b.
Cermat dan jujur
(accurate and truthful)
c.
Tidak memihak
(disinterested)
d.
Sistematis
e.
Tidak bersifat
haru (not emotive)
f.
Mengesampingkan
pendapat yang tidak mempunyai dasar (unsupported opinion)
g.
Sungguh-sungguh
(sincere)
h.
Tidak bercorak
debat (not argumentative)
i.
Tidak
melebih-lebihkan
Sebuah
pencirian lain tentang karangan ilmia dari Dr. Ida Bagus Mantra (“Penulisan
Artikel Ilmiah”) dalam Nurhadiantomo, ed.,m Mmetode & teknik Penulisan Ilmiah: Antologi Esesi, 1981) mengemukakan
persyaratan yang berikut:
1.
Data yang
figunakan mempunyai validitas yang tinggi, analisis dan interpretasi harus
objektif.
2.
Kejujuran ilmiah.
Konvensi di dalam dunia ilmiah mengharuskan orang untuk menyebutkan dengan jelas
sumber data dan pendapat yang digunakan dalam tulisan itu. Dengan jujur dan
tegas harus dikemukakan dan dibedakan mana pendapat atau penemuan sendiri dan
mana pendapat atau penemuan orang lain.
3.
Jelas, tegas,
singkat, sederhana dan teliti. Kata-kata atau kalimat yang digunakan harus
singkat, jelas, dan sederhana. Untuk ini penulis perlu menguasai tata bahasa
dengan baik dan kaya akan pembendaharaan kata-kata.
4.
Kompak , kontinyu
dan lancar. Dari pendahuluan sampai penutup, tulisan ini harus merupakan suatu
keseluruhan yang kompak. Bab demi bab, fasal demi fasal, alinea demi alinea,
merupakan satu keasatuan.
Mengenai segi bahasa pada karangan
ilmiah juga harus dipenuhi syarat-syarat
khusus. Prof. H. Johannes ( Gaya Bahasa
Keilmuan. 1997) mencantumkan ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Titik
pandangketatabahasaan harus taat asa dalam hal ragam an modus maupun mengenai
kata diri dan kata ganti diri,
b.
Karangan ilmiah
berbeda dari susastra dalam hal penggunaaan istilah-istilah khusus yang
ditakrifkan
c.
Tingkat tata bahasa
yang dipakai dalam karangan ilmiah adlaah tingkat bahasa resmi dan bukan
tingkat bahasa harian.
d.
Dalam karangan
ilmiah dihindari bahasa usang, kolot, dan basi.
e.
Dalaam karangan
ilmiah dihindari ungkapan-ungkapan extrem, berlebihan, dan haru.
f.
Dalam karangan
ilmiah dihindari kata-kata mubazir.
g.
Bahasa keilmuan
lebih berkomunikasi dengan pikiran daripada dengan perasaan,
h.
Kalimay dan
alineai dalam karangan ilmiah panjangnya sedang
i.
Pemakaian kiasan
dalam karangan ilmiah terbatas,
Dalam dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi,
dapat dijumpai macam-macam karangan ilmiah seperti berikut:
a.
Bahan ajaran dalam
segala bentuk
b.
Kaya acuan dalam
berbagai macam
c.
Paper
d.
Skripsi
e.
Tesis
f.
Disertasi
B.
Pemilihan Topik
Fokus
penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok
yang akan diungkap dan digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah
rumusan masalah fokus penelitian berisi pertanyaan yang akan dijawab dalam
penelitian dan alasan diajukannya. Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui
gambar apa yang harus didukung oleh alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.
Alasan ini harus dikemukakan secara jelas,
sesuai dengan sifat penelitian yang holistik, induktif dan naturalistik yang
berarti dekat sekali denngan gejala yang diteliti. Pertanyaan tersebut diajukan
setelah diadakan studi pendahuluan lapangan.
Berdasarkan
penjelasan diatas, topik penelitian dpaat diartikan sebagai kejadian atau
peristiwa yang akan dijadikan lapang penelitian. Menurut Sutrisno Hadi (1984)
setidak-tidaknya terdapat empat hal yang biasa dipakai sebagai bahan
pertimbangan pemilihan topik penelitian itu.
1.
Manageable Topik
(topik yang dijangkau kemampuan peneliti)
-
Tersedian dana
yang cukup.
Pelaksanaan penelitian bisa macet, kareta ketiadaan
pembiayaan, atau dana kurang cukup. Oleh karena itu, jangan merencanakan
penelitian yang terlalu besar, bila kemampuan pembiayaan dananya terlalku
kecil. Baik tidaknya satu penelitian tidak digambarkan oleh besarnya biaaya,
melainkan sangat tergantung pada aspek metodologinya dan makna hasil
penelitian.
-
Batas waktu untuk
menyelesaikan penilitian
Faktor waktu perlu pula diperhatiakn/dipertimbangkan.
Suatu penelitian akan banyak memakan waktu jika terlalu banyak aspek yang
bersangkut paut dengan topikmya. Terlalu banyak aspek penelitian tidak saja
akan banyak memakan waktu dalam persiapan, tetapi juga dalam pengumpulan data,
analisisnya dan perumusan hasilnya.
-
Sponsor dan
konsultan
Topik dari suatu penelitian kadang-kadang perlu
disesuaikan dengan tersedianya sponsor atau konsultan yang mau atau mempunyai
cukup kesempatan untuk memberikan bantu atau konsultasi pada saat diperlukan
-
Kerja sama dengan
pihak lain
Suatu topik yang diajukan mungkin juga mengandung
unsur bersifat tidak kerja sama., misalnya penelitian yang bertemajan
moralitas, perbandingan kebaikan beberapa lembaga dan sebagaimnya. Hal ini
menyebabkan peneliti dianggap sebagai detektif yang menyelidiki kejelekan,
kecurangan atau kesalahan pihak lain, oleh karena itu, memperoleh kerja sama
dengan pihak lain diperlukan dalam penelitian itu.
2.
Obtainable Data
Meskipun
kita dapat memilih topik yang sangat baik, namun belum tentu data yang
diperlukan tersedia dan mudah diperoleh. Data itu sangat diperlukan dalam
mengembangkan penelitian. Menyusun rencana penelitian misalkan kita memerlukan
berbagai kepustakaan seperton “textbook”, “buletin” “periodical”, abstrak dan
sebagainya, perlu menjadi perhatian khusus. Jadi dalam pemilihan topik
kemungkinan perlu mementingkan hal-hal berikut ini.
a)
Apakah sumber
sumber data untuk mengembangkan penelitian tersedia cukup dan mudah
diperolehnya.
b)
Apakah teknik
pengumpulan data dan informasi cukup dikuasai dehinggak menjamin untuk dapat
menangkap data informasi itu.
c)
Apakah tidak ada
faktor pribadi dan faktor luar yang akan merintangi kegiatan pengumpulan data.
3.
Significance of
topic ( topik cukup penting untuk diteliti)
Topik yang dipilih
harus merupakan topik yang sangat penting untuk diteliti. Yang menjadi
pertimbangan memilih topik yang sangat penting harus didasarkan kepada dua hal.
Yaitu; sumbangan hasil penelitiannya dapat memenuhi minat akademis (academis interest) dan minat masyarakat
luas (social interest), sifat topik
yang tidak merupakan duplikasi dari topik topik yang telah diteliti orang lain.
Topik penelitian
yang dipersiapkan, baik berbentuk skripsi, tesis, dam disertasi, sebagai karya
ilmiah harus memberikan sumbangan pengetahuan. Sumbangan ini dapat berwujud
materi pengetahuan ataupun berwujud tata kerja atau metodologi. Apapun wujud
sumbangan tersebut, topik yang dipilih harus membuahkan masalah baru dan cara
pemecahan baru, agar dapat memenuhi minat akademis (academic interset).
Kegunaan dari
hasil penelitian sering mendiktekan ketentuan dalam pemilihan topik penelitian.
Hal ini tidak saja disebabkan selain karena umumnya orang bersifat pragmatis,
juga karena tanggapan sosial terhadap hasil penelitian dari segi kegunaan
ini. Oleh karena itu pemilihan topik
perlu membertimbangkan kebutuhan konsumen masyarakat
Pengulangan topik.
Pengulangan topik dapat dianggap tidak duplikasi dengan tiga ketentuan. Pertama, apabila kita beranggapan suatu lapangan
mungkin memerlukan pengolahan kembali disebabkan karena kondisi-kondisi sudah
berubah dibanding dengan pada sifat penelitian terdahulu dilakukan. Kedua, apabila kita merasakan penelitian terdahulu
itu diragukan validitasnya,sehingga penyimpulannya menyesatkan, analisisnya
tidak mengikuti tatacara semestinya. Ketiga,
itu mungkin sajakita bermaksud untuk menguji apakah hasil dari penelitian
terdahulu yang dilakukan didaerah tertentu, akan sama hasilnya didaerah lain.
4.
Interested Topic
Setelah memerhatikan tiga pertimbangan
pemilihan topik di atas, hal ini seolah-olah merupakan faktop yang ada di luar
diri peneliti. Selanjutnya, kita memerhatikan faktor yang ada didalam diri
peneliti itu sendiri. Faktor tersebut adlah minat dan semangat; asrtinya topik
yang dipilih harus benar disertai bahkan didorong oleh minat dan semangat yang
besar.
Minat dan semangat yang besar ini timbul
dari rasa ingin tahun secara ilmiah dengan maksud mencari kebenaran ilmiah.
Berarti minat cenderungan yang bersifat pribadi (bassed attitude) . Salah satu kelemahan penelitian adalah kegiatan
ini tidak didorong oleh maksud mencari kebenaran illmiah itu, melainkan oleh
keinginan untuk membuktikan sepanjang dapat memperkuat pendapat dengan pendapat
pribadi itu digelapkan.
C.
Pembatasan Topik
Topik yang terlalu umum atau luas tidak
sesuai dengan kemampuan penulis untuk membicarakannya, dapat dibatasi ruang
lingkupnya. Hal ini dilakukan agar penulis tidak hanyut dalam persoalan yang
tidak habis-habisnya dan dapat menulis ddengan suatu tujuan khusus. Topik yang
cukup terbatas untuk dibahas. Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa
topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas atau sangat khusus untuk
digarap, sehingga tulisannya dapat terfokus.
Pembatasan topik sekurang-kurangnya akan
membantu pengarang dalam beberapa hal:
a.
Pembatasan
memungkinkan penulis untuk menulis dengan penuh keyakinan dan kepercayaan,
karena topik itu benar-benar diketahuinya.
b.
Pembatasan dan
penyempitan topik akan memungkinkan penulis untuk mengadakan penelitian yang
lebih intensif mengenai masalahnya. Dengan pembatasan itu penulis akan lebih
mudah memilih hal-hal yang akan dikembangkan.
Cara membatasi sebuah topik dapat
dilakukan dengan mempergunakan cara sebagai berikut:
a.
Tetapkanlah topik
yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
b.
Mengajukan
pertanyaan, apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat
dirinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu sekitar lingkaran
topik pertama tadi.
c.
Tetapkanlah dari
rincian tadi mana yang akan dipilih.
d.
Mengajukan
pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci lebih lanjut atau tidak.
Dengan demikian dilakukan secara berulang
sampai diperoleh sebuah topik yang sangat khusus dan cukup sempit.
D.
Penentuan Judul
Setiap karangan ilmiah harus mempunyai
judul sebagai nama karangan dan untuk memberi tahu pembaca mengenai pokok soal
yang diuraikan di dalamnya. Setiap judul karangan hendaknya tepat yaitu judul
itu dapat mencerminkan isi karangan sebaiknya materi karangan tercakup oleh
judul itu. Selanjutnya, judul karangan hendaknya tak terlalu panjang tak
terlampau pendek, dan tidak memakai kata-kata kependekan.
Topik berbeda dengan judul. Topik adalah
pembicaraan dalam keseluruhan karya ilmiah yang digarap. Sedangkan judul ialah
nama, titel atau semacam label untuk suatu karta ilmiah. Penyataan topik
mungkin saja sama dengan judul tetapi mungkin juga tidak. Dalam karya ilmiah
judul harus juga tepat dengan topiknya.
Judul sering diartikan sebagai kepala
karangan, Penelitian atau pembahasan ilmiah selalu dianggap bukan karangan.
Anggapan ini tidak jadi benar seluruhnya. Dalam proses ditetapkannya judul
penelitian untuk skripsi (juga untuk karya tulis lainnya) diawali dengan
penetapan masalah. Pada akhir kegiatan kadang-kadang dirasakan bahwa judul itu
tidak tepat dan harus dibenahi. Oleh karena itu, menetapkan judul di awal
kegiatan biasanya bersifat sementara (tebtatfi) dan dimantapkan secara tepat
oada akhir kegiatan penelitian, ketepatannya ini harus didasarkan pada beberpaa
hal yang bersangkutan dengan arti dan fungsi judul itu secara hakiki.
Judul penelitian pada wujudnya merupakan
kalimat dalam bentuk satu kalimat pernyataan. Judul terdiri dari kata-kata yang
jelas, singakat, deskriptif, dan pernyataan tidak terlalu puitis atau
bombastis.
Meskipun demikian judul harus merupakan
pencerminan atau identitas seluruh isi karya tulis yang dapat menjelaskan dan
menarik, sehingga semua orang yang membacanya dapat dengan segera menduga
tentang materi dan permasalahan serta kaitannya, selain itu dapat pula
diketahui tentang objek dan metode, maksud dan tujuan, serta wilayah dan
kegunaan penelitian.
Dapat pula dikatakan bahwa judul penelitian
itu merupakan gambaran dari konsep suatu penelitian. Isi suatu karya tulis itu
tidak terpapar begitu saja, melainkan mengalir menurut kerangka kerja
konsepnya. Hal ini berkaitan dengan fungsi judul yang bagi para pembaca, dan
penulisnya. Dengan demikian, judul bagi si peniliti, merupakan kompas dalam
menyusun tulisan tersebut.
Syarat Judul yang baik, yaitu :
a. Asli
Jangan menggunakan judul yang sudah pernah ada, bila
terpaksa dapat dicarikan sinonimnya.
b. Relevan
Setelah menulis,baca ulang karangan anda, lalu carilah
judul yang relevan dengan karangan anda ( harus mempunyai pertalian dengan
temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut).
c. Provokatif
Judul tidak boleh terlalu sederhana, sehingga(calon)
pembaca sudah dapat menduga isi karangan anda, kalau(calon) pembaca sudah dapat
menebak isinya tentu karangan anda sudah tidak menarik lagi.
d. Singkat
Judul tidak boleh bertele-tele, harus singkat dan
langsung pada inti yang ingin dibicarakan sehingga maksud yang ingin
disampaikan dapat tercermin lewat judul.
e. Harus bebentuk frasa
f. Awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan
konjungsi,
g. Tanpa tanda baca di akhir judul karangan,
h. Menarik perhatian,
i. Logis,
j. Sesuai dengan isi.
E.
Perumusan Tema
Meskipun topik yang terbatas telah
diperoleh, penulis belum bisa mulai menulis. Dia harus menetapkan maksud dan
tujuan menggarap topik tadi. Tujuannya ialah mengarahkan perkembangan
tulisan.Setelah itu penulis membuat rumusan mengenai masalah dan tujuan yang
dicapay dengan topik, rumusan itu dinamakan Tema.
Untuk memenuhi keperluan penyusunan sebuah kerangka tulisan ilmiah, rumusan
tema harus berbentuk kalimat. Rumusan singkat yang mengandung tema dasar sebuah
karya ilmiah, disebut tesis. Ini
berarti bahwa ada suatu gagasan sentral yang menonjol. Bila tulisan itu tidak
menonkolkan suatu gagasan utama, maka yang ingin disampaikan dapat dinyatakan
dalam bentuk penjelasan singkat. Rumusan singkat yang tidak menekankan tema
dasar disebut pengungkapan maksud,
F.
Pengumpulan Bahan
Pengumpulan Informasi untuk Penulisan Karya Ilmiah
1. Proses pengumpulan data/informasi untuk
keperluan penulisan karya ilmiah dapat dilakukan dengan cara penelusuran bahan
atau sumber bacaan di perpustakaan dan melacak informasi dari orang-orang yang
ahli dalam bidang tertentu dengan jalan mewawancarainya.
2. Dalam
memanfaatkan perpustakaan, ada beberapa bagian yang perlu diketahui cara
penggunaannya, yaitu encyclopedia, bibliografi, periodical, referensi, data
statistik, dan terbitan-terbitan pemerintah.
3. Penelusuran pustaka dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu lewat online catalog, biasanya menggunakan terminal komputer
sebagai sumber informasinya, dan card-catalog (kartu katalog), di mana semua
informasi tentang pengarang/penulis buku/artikel, judul buku dan subjek/topik
tulisan dicatat dalam kartu.
4. Terdapat 3
(tiga) jenis kartu katalog yang, dapat digunakan pada saat penelusuran pustaka,
yaitu kartu katalog yang berisi informasi tentang pengarang/penulis, judul
buku/artikel dan subjek/topik yang ditulis.
5. Langkah-langkah
yang harus dilakukan dalam penelusuran data/informasi untuk tulisan dengan cara
wawancara adalah berikut ini.
a) Menentukan siapa yang akan diwawancarai.
b) Mengembangkan pedoman wawancara.
c) Melaksanakan wawancara.
d) Mengolah data hasil wawancara.
6. Pedoman wawancara yang berisi daftar
pertanyaan yang akan diajukan merupakan salah satu prasyarat terpenting yang
menentukan keberhasilan suatu wawancara. Pedoman wawancara ini harus dikembangkan
berdasarkan cakupan materi atau permasalahan yang akan dikembangkan dalam karya
tulis ilmiah .
G.
Penyusunan Kerangka Makalah
Untuk menghasilkan makalah yang uraiannya logis dan
sistematis, kerangkanya harus sistematis dan konsisten, perhatikan lah contoh
kerangka makalah dibawah ini.
-
JUDUL
-
ABSTRAK
-
LEMBAR PERSETUJUAN
-
KATA PENGANTAR
-
DAFTAR ISI
-
DAFTAR LAMPIRAN
-
DAFTAR TABEL
-
BABI. PENDAHULUAN
-
Latar Belakang
Masalah
-
Perumusan Masalah
-
Tujuan dan Manfaat
Penulisan
-
Tujuan Penulisan
-
Manfaat Penulisan
-
BAB II. KAJIAN
TEORETIS DAN METODOLOGI PENULISAN
-
Kajian Teoretis
-
Kerangka Berpikir
-
Metodologi
Penulisan
-
BAB III.
PEMBAHASAN (judul sesuai topik masalah yang dibahas)
-
Deskripsi Kasus
-
Analisis Kasus
-
BAB IV KESIMPULAN
-
Kesimpulan
-
Saran
-
DAFTAR PUSTAKA
-
LAMPIRAN-LAMPIRAN (termasuk
sinopsis gambaran umum perusahaan yang ditulis)
H.
Penulisan makalah
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Memuat fakta-fakta
atau sebab yang relevan sebagai titik tolak dalam merumuskan masalah penulisan dan mengemukakan alasan penentuan masalah.
Penulis dapat pengutip/mengemukakan
pendapat para ahli, berita melalui media massa, peraturan perundang-undangan
yang mendukung terhadap fakta atau fenomena yang akan ditulis. Setiap peraturan
dan perundang-undangan yang dikutip tidak ada catatan kaki, sedangkan pendapat para
ahli, berita melalui media massa harus
disertai catatan kaki.
B. Perumusan Masalah
Menyatakan secara
tersurat pertanyaan-pertanyaan apa yang ingin dicari jawabannya. Perumusan
masalah merupakanpertanyaan yang lengkap dan terperinci mengenai
ruang lingkup permasalahan yang dibahas, diakhir pertanyaan harus memberikan
tanda tanya (?).
Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan Penulisan: Menyebutkan secara spesifik maksud yang ingin dicapai
dalam penulisan.
b. Manfaat Penulisan: Kontribusi hasil penulisan bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
BAB II KAJIAN TEORETIS DAN METODOLOGI PENULISAN
A. Kajian Teoretis
Pemaparan beberapa
teori ilmiah dan temuan-temuan lain yang dianggap perlu dan relevan dengan
pokok masalah Setiap teori yang dikutip harus disertai penjelasan dan komentar
penulis tentang kaitan teori tersebut dangan masalah. Sedangkan pada akhir dari
semua teori-teori yang dikutip, penulis harus memunculkan sebuah kesimpulan terkait
dengan permasalahan.
B. Kerangka Berpikir
Argumentasi penulis yang didasari pada
teori-teori ilmiah yang telah dikemukakan dimuka. Penelitis harus menjelaskan
suatu alur kerja atau saling keterkaitan antar indikator dengan permasalahan
yang dibahas. Peneliti dapat untuk mengungkapkannya dapat menggunakan bantuan
skema atau bagan penjelasan.
Metodologi Penulisan
1. Tempat dan waktu: jelaskan tempat/lokasi observasi dengan menyebutkan
nama perusahaan serta alamatnya, kemudian sebutkan waktu observasi
sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh masing-masing program studi.
2. Metode :
a. Sebutkan nama metode yang digunakan (misalnya: metode deskriptif
analisis).
b. Teknik pengumpulan data (misalnya: wawancara, observasi,
menggunakan kuesioner).
c. Teknik Analisis Data (misalnya: memakai rumus statistik, rumus
keuangan, atau model analisis lain seperti SWOT, EOQ, EVA, ABC).
BAB III PEMBAHASAN (judul bab ini harus sesui dengan topik
yang diangkat)
A. Deskripsi Kasus
Mengidentifikasi
kasus-kasus yang terdapat pada perusahaan (sesuai dengan kekhususan bidang ilmu
penulis). Kasus yang diidentiftkasi di mulai dengan kasus sederhana sampai pada
kasus kompleks dan rumit sesuai dengan urgensi fenomena yang diangkat pada
perumusan masalah.
Kasus yang diangkat
merupakan kasus yang ditemukan di perusahaan dan penulis terlebih dahulu
melakukan konfirmasi dengan pihak perusahaan (guna menjamin kesahihan kasus). Kasus-kasus yang
bersifat rahasia tidak disarankan untuk dibahas oleh penulis. Kasus yang
diangkat dapat berupa point-point uraian penjelasan atau berupa tabel, diagram
dan sebagainya.
B. Analisis Kasus
Penulis melakukan
pengkajian terhadap kasus yang dipilih sesuai urgensi permasalahan dan berusaha
mengkaitkan dengan konsep teori dan temuantemuan lain yang dianggap perlu.
Untuk mendapatkan solusi/pemecahan terhadap kasus yang dibahas, penulis dapat
juga menggunakan model-model analisis seperti analisis SWOT, EOQ dan sebagainya
sesuai kebutuhan.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
peneliti harus meyimpulkan hasil
temuan dari analisis kasus dalam bentuk pointpoint penting secara jelas dan
tepat (tidak boleh menulis simpulan diluar kasus yang dianalisis). Berangkat
dari kesimpulan tersebut penulis memberikan saran-saran yang
berguna terkait dengan kasus yang telah dianalisis (untuk jangka pendek, menengah
dan panjang) terutama ditujukan kepada perusahaan yang ditulis dan kegunaannya
bagi perkembangan IPTEK. Pada bab ini antara Kesimpulan dan Saran masing-masing
dijadikan sub-bab tersendiri.
KUTIPAN
Kutipan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kutipan langsung dan
kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah peneliti mengambil kutipan
sesuai dengan sumber aslinya. Kutipan yang tidak lebih dari tiga baris diketik
dua spasi dengan cara memberikan tanda petik diantara teks yang dikutip dan
diberi nomor kutipan. Kutipan yang menggunakan istilah atau bahasa asingdicetak
miring dan diberi nomor kutipan Ini dapat dilihat pada contoh
berikut :
Menurut Hawkins, Best
dan Cooney mengemukakan pengertian sikap bahwa :“Attitude is an enduring organizational, emotional,
perceptual an cognitive process with respect tosome aspect environmental (Sikap
adalah suatu organisasi yang bertahan lama dari motivasi, emosi, persepsi, dan
proses kognitif dengan menghargai beberapa aspek lingkungan)”1.
CATATAN KAKI
Pencantuman catatan
kaki diperlukan dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui sumber referensi yang menjadi kajian peneliti. Adapun usur pokok dalam
catatan kaki adalah nama penulis, judul tulisan, data publikasi (kota tempat
terbit, nama penerbit, dan tahun penerbitan), serta nomor halaman. Semua sumber
kutipan yang baru muncul pertama kali harus ditulis secara lengkap, sedangkan
untuk pemunculan berikutnya digunakan singkatanibid, op. cit,
atau loc. cit. Dalam menulis catatan kaki, baris pertama harus
ke dalam sebanyak 7 (tujuh) ketukan.
Ibid adalah singkatan
dari ibidem, digunakan apabila sumber kutipan pertama
diikuti dengan kutipan berikutnya dimana sumbernya sama, tanpa diselingi dengan
sumber kutipan lain.
Loc. cit. adalah singkatan
dari loco citato, artinya yaitu tempat yang pernah dikutip. Kutipan
berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip (halamannya
sama), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.
Op. cit. adalah singkatan
dari opere citato,artinya karya yang telah dikutip (dikutip terlebih
dahulu). Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip halamannya berbeda), tetapi telah
diselingi dengan sumber kutipan lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ketentuan dalam penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut :
1. Tuliskan nama pengarang, judul karangan dan data tentang penerbitannya
(tempat, penerbit dan tahun)
2. Daftar pustaka disusun secara alfabetis tidak hanya huruf terdepannya
tetapi juga huruf kedua dan seterusnya.
3. Daftar pustaka diketik satu spasi dan jarak antara masing-masing pustaka
adalah dua spasi.
4. Huruf pertama dari baris pertama masing-masing pustaka diketik tepat
pada garis tepi kiri tanpa ketukan
(indensi) dan baris berikutnya digunakan indensi 7 karakter.
5. Apabila nama pengarang sama dan judul berbeda, maka baris pertama harus
diberi garis terputus-putus sebanyak 14 (empat belas) ketukan
6. Penulisan nama pengarang diawali dengan nama keluarga, kemudian namanya.
Untuk dua atau tiga pengarang, nama pengarang kedua dan ketiga tidak perlu dibalik.
7. Penulisan nama pengarang yang bermarga cina atau mandarin, ditulis apa
adanya
(tidak diindeks).
8. Jika nama pengarang sama dalam dua tahun penerbitan berbeda, maka daftar
pustaka disusun menurut urutan waktu (tahun)
9. Nama pengarang sama, judul berbeda perlu diberikan garis sebanyak 14
ketukan
10. Sama sekali tidak boleh mencantumkan sumber referensi yang tidak pernah
dibacadan tidak boleh mencantumkan gelar .
11. Dalam daftar pustaka/catatan kaki, tulisan yang bersumber dari majalah/
koran/makalah yang diberi garis bawah atau ditebalkan adalah nama
majalah/korannya yang menerbitkan.
Contoh Penulisan Daftar Pustaka
1) Buku
a. Satu Pengarang
Nasoetion, Andi Hakim. Metode Statstika.Yakarta: Penerbit PT
Gramedia, 1980
Turabian, Kate L. A Manual for Writers of Term Papers, Theses, and
Dissertations.
Chicago: University of Chicago Press, 1980.
b. Dua Pengarang
Kennedy, Ralph Dale dan Stewart Y. McMullen. Financial Statement:
Form, AnĂ¡lisis
and Interpretation. Petaling Jaya: Irwin Book Company, 1973
Pangestu, Subagyo dan Djarwanto. Statistik Deskriptif.
Yogyakarta: BPFE, 1982
c. Tiga Pengarang
Heidirachman R., Sukanto R., dan Irawan.Pengantar Ekonomi Preusan. Yogyakarta:
Bagian Penerbitan Facultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, 1980.
Jahoda, Marie, Morton Deutsch, dan Stuart W. Cook. Research Methods
in Social
Relation. New Cork: Dryden Press, 1951.
d. Lebih Dari Tiga
Pengarang
Selltiz, Claire, et al. Research Methods in Social Relations.
New Cork: Holt, Rinehart &
Winston, 1959
Sukanto, et al. Business Forecasting. Yogyakarta: Bagian
Penerbitan Facultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, 1980.
DAFTAR PUSTAKA
-
Barus, Sanggup .
2014. Pendidikan Bahasa Indonesia .
Medan : Unimed Press
-
Burhan, Jazir
& Misdan, Undang. 1980. Bahasa
Indonesia Program Spesialisasi Semester V dan VI . Jakarta: Mutiara
-
Gie, The Liang.
2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta:
ANDI
-
Tanjung, H. Bahdin
Nur & Ardial, H. 2005 . Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Proposal,
Skripsi, dan Tesis) dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel Ilmiah. Medan:
Kencana
-
Suyitno, H. Imam. 2011. Karya Tulis Ilmiah (KTI) . Malang: Refika Aditama.
-
http://postingan-all.blogspot.com/2012/11/perencanaan-penulisan-karangan-ilmiah.html
(Diakses pada Minggu 07- September 2014 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar