Sabtu, 22 November 2014

Mata Kuliah Umum | Bahasa Indonesia

Makalah Kelompok Bahasa Indonesia
PENULISAN KARYA ILMIAH

Atikah
Diego
Febrita Octavia
Frislin Hutapea

B Reguler 2012
Pend. Geografi
FIS
UNIMED
2014







KATA PENGANTAR


            Diawali dengan ungkapan rasa syukur ke hadiran Tuhan Yang Maha Kuasa, dan izin-Nya makalah ini dapat diselesaikan. Dengan adanya makalah ini, dapat diharapkan membantu pembaca, khususnya kalangan mahasiswa yang sedang menjalani mata kuliah umum Bahasa Indonesia.
            “PENULISAN KARYA ILMIAH” ini menuntun mahasiswa/i mengerti tentang karya ilmiah dan bagaimana membuat suatu karya ilmiah. Memang tim penyusun sudah merancang isi buku yang dapat dimengerti oleh pembaca khususnya kaum mahasiswa.
            Makalah ini disusun dan diselesaikan berdasarkan beberapa kali penyempurnaan terkait dari beberapa sumber buku yang jelas yang diambil dari tim penyusun. Dengan disajikannya teori, panduan, dan contoh dalam makalah ini, diharapkan mahasiswa dapat mengerti mengenai Penulisan Karya Ilmiah
            Dalam pengerjaan makalah ini, pastilah tim kami memiliki kekurangan, baik itu dalam penyusunan, maupun isi dari makalah ini. Oleh karena itu, dalam segala bentuk kekurangan tim kami, kami mohon maaf, dan kami berharap pembaca dapat memberi saran dan kiritik yang positif, agar menjadi perbaikan untuk kami kedepannya.
            Demikianlah prakata dari tim penulis, semoga makalah memberi manfaat bagi pembaca.



                                    Medan,  September 2014


Tim penulis
             



BAB I
PENDAHULUAN
            Karangan faktawi memuat infomasi sesuai dengan fakta senyatanya yang terutama dimaksudkan untuk memberikan keterangan dan penjelasan kepada pembaca. Salah satu jenis karangan faktawi ialah karangan ilmiah.
            Kata karya  dapat diartikan dengan hasil perbuatan atau ciptaan (terutama hasil karangan). Lalu kata ilmiah  dapat diartikan dengan bersifat ilmu atau memenuhi syarat ilmu pengetahuan . Jadi, dapat dinyatakan bahwa karya ilmiah adalah karangan yang bersifat ilmu untuk memenuhi syarat ilmu pengetahuan.
            Penelitian ilmiah adlaah upaya untuk menjelaskan fenomena nyata yang kita almi dengan menetpkan prinsip umum untuk menerangkannya. Sesuai dengan harapan, ilmu doaat memprediksi fenomena tersebut. Prinsip ilmu dinyatakan secara eksplisit dalam teori yang berangkat dari suatu fakta empiris.
            Menjelaskan fakta empiris, ilmuwan memerlukan sistem konsep yang teratur. Ilmu tanpa dilandasi konsep adalah  mustahil, karena tidak masuk akal. Sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal, bukanlah ilmu. Konsep diperlukan bagi ilmu, berarti dimungkinkannya sesuatu masalah didefinisikan dan dibentuk unsur ilmiahnya.
            Pada dasarnya, dalam penelitian ilmiah, penjelasan deskriptf fenomena bisa dinyatakan melalui kata-kata tidak bersifat teknis. Perkembangan ilmu mencakup perkembangan sitem spekulasi (spekulasi dlam arti berfikir) hal ini merupakan daya abstraksi, atau konsep dan terminologi yang fundamental, jauh dari disiplin ilmu sebenarnya.Pendefinisian konsep dan perumusan teori berlangsung setiap saat. Hal ini merupakan langkah yang diperlukan dalam konsep, merupakan suatu keperluan mendasar meski hanya dan berpuncak pada terbentuknya teori. Konsep adalah unsur yang tidak bisa dihilangkan dari teori atau sistem teoritis.                    
            Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karya ilmiah adalah karangan yang pembicaraannya bersifat objektif, berdasarkan data dan penyimpulan-penemuan di dalamnya berpola induktif dan deduktif serta pembahasan datanya berdasarkan rasio.         Tujuannya dapat bermacam-macam dalam kaitannya dengan pendidikan dan penelitian seperti misalnya untuk penilian kelulusan, sebagai bahan dalam proses belajar-mengajar, menjadi sarana baca untuk mendalami suatu cabang ilmu, dan untuk menyajikan hasil penelitian dalam pertemuan ilmuwan.
            Menurut perumusan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), suatu naskah dapat digolongkan dalam pengertian karangan ilmiah asli bilamana karangan itu ditulis sedemikian rupa sehingga seorang peneliti yang bergerak dlaam lapangan ilmiah yang sama dengan hanya beradasarkan informasi yang diperoleh dari naskah itu dapat:
a.       Memprodusir percobaan-percobaan serta menjamin hasil dengan tepat atau dengan batas-batas kegagalan percobaan seperti yang dijelaskan oleh penulias dalam karangan
b.      Mengulaangi pandangan penulis serta pendapatnya,
c.       Memeriksa kembali ketelitian dan menarik kesimpulan pendapat yang sama dari penulis,
























BAB II
ISI

A.    Ciri  dan Macam Karangan Ilmiah

Karangan ilmiah merupakan jenis karangan yang terutama mengenai sesuatu topik keilmuan dan umumnya kepada masyarakat pembaca yang berkecimpung dalam bidang pengetahuan ilmiah yang bersangkutan. Tata cara pemaparan dan bentuk susunan karangan ilmiah harus mengikuti pola, tata tertib, dan kelaziman yang berlkaku pada masyarakat ilmuwan.
Pembahasan lebih mendalam terhadaop arangan ilmiah menunjukkan bahwa jenis karangan ini harus memenuhi ciri-ciri tertentu sebagai peryaratan utama. Sebagai contoh, W. Paul., Jones (Writing Scientific Papers and Reports 1959)  mensyaratkan 10 ciri karangan ilmiah hendaknya;
a.       Menyajikan fakta-fakta
b.      Cermat dan jujur (accurate and truthful)
c.       Tidak memihak (disinterested)
d.      Sistematis
e.       Tidak bersifat haru (not emotive)
f.       Mengesampingkan pendapat yang tidak mempunyai dasar (unsupported opinion)
g.      Sungguh-sungguh (sincere)
h.      Tidak bercorak debat (not argumentative)
i.        Tidak melebih-lebihkan

Sebuah pencirian lain tentang karangan ilmia dari Dr. Ida Bagus Mantra (“Penulisan Artikel Ilmiah”) dalam Nurhadiantomo, ed.,m Mmetode & teknik Penulisan Ilmiah: Antologi Esesi, 1981) mengemukakan persyaratan yang berikut:
1.      Data yang figunakan mempunyai validitas yang tinggi, analisis dan interpretasi harus objektif.
2.      Kejujuran ilmiah. Konvensi di dalam dunia ilmiah mengharuskan orang untuk menyebutkan dengan jelas sumber data dan pendapat yang digunakan dalam tulisan itu. Dengan jujur dan tegas harus dikemukakan dan dibedakan mana pendapat atau penemuan sendiri dan mana pendapat atau penemuan orang lain.
3.      Jelas, tegas, singkat, sederhana dan teliti. Kata-kata atau kalimat yang digunakan harus singkat, jelas, dan sederhana. Untuk ini penulis perlu menguasai tata bahasa dengan baik dan kaya akan pembendaharaan kata-kata.
4.      Kompak , kontinyu dan lancar. Dari pendahuluan sampai penutup, tulisan ini harus merupakan suatu keseluruhan yang kompak. Bab demi bab, fasal demi fasal, alinea demi alinea, merupakan satu keasatuan.
Mengenai segi bahasa pada karangan ilmiah  juga harus dipenuhi syarat-syarat khusus. Prof. H. Johannes ( Gaya Bahasa Keilmuan. 1997) mencantumkan ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Titik pandangketatabahasaan harus taat asa dalam hal ragam an modus maupun mengenai kata diri dan kata ganti diri,
b.      Karangan ilmiah berbeda dari susastra dalam hal penggunaaan istilah-istilah khusus yang ditakrifkan
c.       Tingkat tata bahasa yang dipakai dalam karangan ilmiah adlaah tingkat bahasa resmi dan bukan tingkat bahasa harian.
d.      Dalam karangan ilmiah dihindari bahasa usang, kolot, dan basi.
e.       Dalaam karangan ilmiah dihindari ungkapan-ungkapan extrem, berlebihan, dan haru.
f.       Dalam karangan ilmiah dihindari kata-kata mubazir.
g.      Bahasa keilmuan lebih berkomunikasi dengan pikiran daripada dengan perasaan,
h.      Kalimay dan alineai dalam karangan ilmiah panjangnya sedang
i.        Pemakaian kiasan dalam karangan ilmiah terbatas,


Dalam dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi, dapat dijumpai macam-macam karangan ilmiah seperti berikut:
a.       Bahan ajaran dalam segala bentuk
b.      Kaya acuan dalam berbagai macam
c.       Paper
d.      Skripsi
e.       Tesis
f.       Disertasi


B.     Pemilihan Topik

Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap dan digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah fokus penelitian berisi pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya. Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambar apa yang harus didukung oleh alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.
   Alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian yang holistik, induktif dan naturalistik yang berarti dekat sekali denngan gejala yang diteliti. Pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan lapangan.
Berdasarkan penjelasan diatas, topik penelitian dpaat diartikan sebagai kejadian atau peristiwa yang akan dijadikan lapang penelitian. Menurut Sutrisno Hadi (1984) setidak-tidaknya terdapat empat hal yang biasa dipakai sebagai bahan pertimbangan pemilihan topik penelitian itu.
1.      Manageable Topik (topik yang dijangkau kemampuan peneliti)
-          Tersedian dana yang cukup.
Pelaksanaan penelitian bisa macet, kareta ketiadaan pembiayaan, atau dana kurang cukup. Oleh karena itu, jangan merencanakan penelitian yang terlalu besar, bila kemampuan pembiayaan dananya terlalku kecil. Baik tidaknya satu penelitian tidak digambarkan oleh besarnya biaaya, melainkan sangat tergantung pada aspek metodologinya dan makna hasil penelitian.

-          Batas waktu untuk menyelesaikan penilitian
Faktor waktu perlu pula diperhatiakn/dipertimbangkan. Suatu penelitian akan banyak memakan waktu jika terlalu banyak aspek yang bersangkut paut dengan topikmya. Terlalu banyak aspek penelitian tidak saja akan banyak memakan waktu dalam persiapan, tetapi juga dalam pengumpulan data, analisisnya dan perumusan hasilnya.

-          Sponsor dan konsultan
Topik dari suatu penelitian kadang-kadang perlu disesuaikan dengan tersedianya sponsor atau konsultan yang mau atau mempunyai cukup kesempatan untuk memberikan bantu atau konsultasi pada saat diperlukan

-          Kerja sama dengan pihak lain
Suatu topik yang diajukan mungkin juga mengandung unsur bersifat tidak kerja sama., misalnya penelitian yang bertemajan moralitas, perbandingan kebaikan beberapa lembaga dan sebagaimnya. Hal ini menyebabkan peneliti dianggap sebagai detektif yang menyelidiki kejelekan, kecurangan atau kesalahan pihak lain, oleh karena itu, memperoleh kerja sama dengan pihak lain diperlukan dalam penelitian itu.

2.      Obtainable Data
Meskipun kita dapat memilih topik yang sangat baik, namun belum tentu data yang diperlukan tersedia dan mudah diperoleh. Data itu sangat diperlukan dalam mengembangkan penelitian. Menyusun rencana penelitian misalkan kita memerlukan berbagai kepustakaan seperton “textbook”, “buletin” “periodical”, abstrak dan sebagainya, perlu menjadi perhatian khusus. Jadi dalam pemilihan topik kemungkinan perlu mementingkan hal-hal berikut ini.
a)      Apakah sumber sumber data untuk mengembangkan penelitian tersedia cukup dan mudah diperolehnya.
b)      Apakah teknik pengumpulan data dan informasi cukup dikuasai dehinggak menjamin untuk dapat menangkap data informasi itu.
c)      Apakah tidak ada faktor pribadi dan faktor luar yang akan merintangi kegiatan pengumpulan data.

3.      Significance of topic ( topik cukup penting untuk diteliti)
Topik yang dipilih harus merupakan topik yang sangat penting untuk diteliti. Yang menjadi pertimbangan memilih topik yang sangat penting harus didasarkan kepada dua hal. Yaitu; sumbangan hasil penelitiannya dapat memenuhi minat akademis (academis interest) dan minat masyarakat luas (social interest), sifat topik yang tidak merupakan duplikasi dari topik topik yang telah diteliti orang lain.
Topik penelitian yang dipersiapkan, baik berbentuk skripsi, tesis, dam disertasi, sebagai karya ilmiah harus memberikan sumbangan pengetahuan. Sumbangan ini dapat berwujud materi pengetahuan ataupun berwujud tata kerja atau metodologi. Apapun wujud sumbangan tersebut, topik yang dipilih harus membuahkan masalah baru dan cara pemecahan baru, agar dapat memenuhi minat akademis (academic interset).
Kegunaan dari hasil penelitian sering mendiktekan ketentuan dalam pemilihan topik penelitian. Hal ini tidak saja disebabkan selain karena umumnya orang bersifat pragmatis, juga karena tanggapan sosial terhadap hasil penelitian dari segi kegunaan ini.  Oleh karena itu pemilihan topik perlu membertimbangkan kebutuhan konsumen masyarakat
Pengulangan topik. Pengulangan topik dapat dianggap tidak duplikasi dengan tiga ketentuan. Pertama,  apabila kita beranggapan suatu lapangan mungkin memerlukan pengolahan kembali disebabkan karena kondisi-kondisi sudah berubah dibanding dengan pada sifat penelitian terdahulu dilakukan. Kedua,  apabila kita merasakan penelitian terdahulu itu diragukan validitasnya,sehingga penyimpulannya menyesatkan, analisisnya tidak mengikuti tatacara semestinya. Ketiga, itu mungkin sajakita bermaksud untuk menguji apakah hasil dari penelitian terdahulu yang dilakukan didaerah tertentu, akan sama hasilnya didaerah lain.
4.      Interested Topic
Setelah memerhatikan tiga pertimbangan pemilihan topik di atas, hal ini seolah-olah merupakan faktop yang ada di luar diri peneliti. Selanjutnya, kita memerhatikan faktor yang ada didalam diri peneliti itu sendiri. Faktor tersebut adlah minat dan semangat; asrtinya topik yang dipilih harus benar disertai bahkan didorong oleh minat dan semangat yang besar.
Minat dan semangat yang besar ini timbul dari rasa ingin tahun secara ilmiah dengan maksud mencari kebenaran ilmiah. Berarti minat cenderungan yang bersifat pribadi (bassed attitude) . Salah satu kelemahan penelitian adalah kegiatan ini tidak didorong oleh maksud mencari kebenaran illmiah itu, melainkan oleh keinginan untuk membuktikan sepanjang dapat memperkuat pendapat dengan pendapat pribadi itu digelapkan.
C.    Pembatasan Topik
Topik yang terlalu umum atau luas tidak sesuai dengan kemampuan penulis untuk membicarakannya, dapat dibatasi ruang lingkupnya. Hal ini dilakukan agar penulis tidak hanyut dalam persoalan yang tidak habis-habisnya dan dapat menulis ddengan suatu tujuan khusus. Topik yang cukup terbatas untuk dibahas. Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas atau sangat khusus untuk digarap, sehingga tulisannya dapat terfokus.

Pembatasan topik sekurang-kurangnya akan membantu pengarang dalam beberapa hal:
a.       Pembatasan memungkinkan penulis untuk menulis dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, karena topik itu benar-benar diketahuinya.
b.      Pembatasan dan penyempitan topik akan memungkinkan penulis untuk mengadakan penelitian yang lebih intensif mengenai masalahnya. Dengan pembatasan itu penulis akan lebih mudah memilih hal-hal yang akan dikembangkan.
Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan mempergunakan cara sebagai berikut:
a.       Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
b.      Mengajukan pertanyaan, apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu sekitar lingkaran topik pertama tadi.
c.       Tetapkanlah dari rincian tadi mana yang akan dipilih.
d.      Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci lebih lanjut atau tidak.
Dengan demikian dilakukan secara berulang sampai diperoleh sebuah topik yang sangat khusus dan cukup sempit.










D.    Penentuan Judul
Setiap karangan ilmiah harus mempunyai judul sebagai nama karangan dan untuk memberi tahu pembaca mengenai pokok soal yang diuraikan di dalamnya. Setiap judul karangan hendaknya tepat yaitu judul itu dapat mencerminkan isi karangan sebaiknya materi karangan tercakup oleh judul itu. Selanjutnya, judul karangan hendaknya tak terlalu panjang tak terlampau pendek, dan tidak memakai kata-kata kependekan.
Topik berbeda dengan judul. Topik adalah pembicaraan dalam keseluruhan karya ilmiah yang digarap. Sedangkan judul ialah nama, titel atau semacam label untuk suatu karta ilmiah. Penyataan topik mungkin saja sama dengan judul tetapi mungkin juga tidak. Dalam karya ilmiah judul harus juga tepat dengan topiknya.
Judul sering diartikan sebagai kepala karangan, Penelitian atau pembahasan ilmiah selalu dianggap bukan karangan. Anggapan ini tidak jadi benar seluruhnya. Dalam proses ditetapkannya judul penelitian untuk skripsi (juga untuk karya tulis lainnya) diawali dengan penetapan masalah. Pada akhir kegiatan kadang-kadang dirasakan bahwa judul itu tidak tepat dan harus dibenahi. Oleh karena itu, menetapkan judul di awal kegiatan biasanya bersifat sementara (tebtatfi) dan dimantapkan secara tepat oada akhir kegiatan penelitian, ketepatannya ini harus didasarkan pada beberpaa hal yang bersangkutan dengan arti dan fungsi judul itu secara hakiki.
Judul penelitian pada wujudnya merupakan kalimat dalam bentuk satu kalimat pernyataan. Judul terdiri dari kata-kata yang jelas, singakat, deskriptif, dan pernyataan tidak terlalu puitis atau bombastis.
Meskipun demikian judul harus merupakan pencerminan atau identitas seluruh isi karya tulis yang dapat menjelaskan dan menarik, sehingga semua orang yang membacanya dapat dengan segera menduga tentang materi dan permasalahan serta kaitannya, selain itu dapat pula diketahui tentang objek dan metode, maksud dan tujuan, serta wilayah dan kegunaan penelitian.




 Dapat pula dikatakan bahwa judul penelitian itu merupakan gambaran dari konsep suatu penelitian. Isi suatu karya tulis itu tidak terpapar begitu saja, melainkan mengalir menurut kerangka kerja konsepnya. Hal ini berkaitan dengan fungsi judul yang bagi para pembaca, dan penulisnya. Dengan demikian, judul bagi si peniliti, merupakan kompas dalam menyusun tulisan tersebut.

Syarat Judul yang baik, yaitu :
a. Asli
Jangan menggunakan judul yang sudah pernah ada, bila terpaksa dapat dicarikan sinonimnya.
b. Relevan
Setelah menulis,baca ulang karangan anda, lalu carilah judul yang relevan dengan karangan anda ( harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut).
c. Provokatif
Judul tidak boleh terlalu sederhana, sehingga(calon) pembaca sudah dapat menduga isi karangan anda, kalau(calon) pembaca sudah dapat menebak isinya tentu karangan anda sudah tidak menarik lagi.
d. Singkat
Judul tidak boleh bertele-tele, harus singkat dan langsung pada inti yang ingin dibicarakan sehingga maksud yang ingin disampaikan dapat tercermin lewat judul.
e. Harus bebentuk frasa
f. Awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi,
g. Tanpa tanda baca di akhir judul karangan,
h. Menarik perhatian,
i. Logis,
j. Sesuai dengan isi.

E.     Perumusan Tema
Meskipun topik yang terbatas telah diperoleh, penulis belum bisa mulai menulis. Dia harus menetapkan maksud dan tujuan menggarap topik tadi. Tujuannya ialah mengarahkan perkembangan tulisan.Setelah itu penulis membuat rumusan mengenai masalah dan tujuan yang dicapay dengan topik, rumusan itu dinamakan Tema. Untuk memenuhi keperluan penyusunan sebuah kerangka tulisan ilmiah, rumusan tema harus berbentuk kalimat. Rumusan singkat yang mengandung tema dasar sebuah karya ilmiah, disebut tesis. Ini berarti bahwa ada suatu gagasan sentral yang menonjol. Bila tulisan itu tidak menonkolkan suatu gagasan utama, maka yang ingin disampaikan dapat dinyatakan dalam bentuk penjelasan singkat. Rumusan singkat yang tidak menekankan tema dasar disebut pengungkapan maksud,
F.                      Pengumpulan Bahan
Pengumpulan Informasi untuk Penulisan Karya Ilmiah
1.  Proses pengumpulan data/informasi untuk keperluan penulisan karya ilmiah dapat dilakukan dengan cara penelusuran bahan atau sumber bacaan di perpustakaan dan melacak informasi dari orang-orang yang ahli dalam bidang tertentu dengan jalan mewawancarainya.
2. Dalam memanfaatkan perpustakaan, ada beberapa bagian yang perlu diketahui cara penggunaannya, yaitu encyclopedia, bibliografi, periodical, referensi, data statistik, dan terbitan-terbitan pemerintah.
3.  Penelusuran pustaka dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu lewat online catalog, biasanya menggunakan terminal komputer sebagai sumber informasinya, dan card-catalog (kartu katalog), di mana semua informasi tentang pengarang/penulis buku/artikel, judul buku dan subjek/topik tulisan dicatat dalam kartu.
4. Terdapat 3 (tiga) jenis kartu katalog yang, dapat digunakan pada saat penelusuran pustaka, yaitu kartu katalog yang berisi informasi tentang pengarang/penulis, judul buku/artikel dan subjek/topik yang ditulis.
5. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penelusuran data/informasi untuk tulisan dengan cara wawancara adalah berikut ini.
a)      Menentukan siapa yang akan diwawancarai.
b)      Mengembangkan pedoman wawancara.
c)      Melaksanakan wawancara.
d)     Mengolah data hasil wawancara.
6.  Pedoman wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan merupakan salah satu prasyarat terpenting yang menentukan keberhasilan suatu wawancara. Pedoman wawancara ini harus dikembangkan berdasarkan cakupan materi atau permasalahan yang akan dikembangkan dalam karya tulis ilmiah .
G.    Penyusunan Kerangka Makalah
Untuk menghasilkan makalah yang uraiannya logis dan sistematis, kerangkanya harus sistematis dan konsisten, perhatikan lah contoh kerangka makalah dibawah ini.
-          JUDUL
-          ABSTRAK
-          LEMBAR PERSETUJUAN
-          KATA PENGANTAR
-          DAFTAR ISI
-          DAFTAR LAMPIRAN
-          DAFTAR TABEL
-          BABI. PENDAHULUAN
-          Latar Belakang Masalah
-          Perumusan Masalah
-          Tujuan dan Manfaat Penulisan
-          Tujuan Penulisan
-          Manfaat Penulisan
-          BAB II. KAJIAN TEORETIS DAN METODOLOGI PENULISAN
-          Kajian Teoretis
-          Kerangka Berpikir
-          Metodologi Penulisan
-          BAB III. PEMBAHASAN (judul sesuai topik masalah yang dibahas)
-          Deskripsi Kasus
-          Analisis Kasus
-          BAB IV KESIMPULAN
-          Kesimpulan
-          Saran
-          DAFTAR PUSTAKA
-          LAMPIRAN-LAMPIRAN (termasuk sinopsis gambaran umum perusahaan yang ditulis)


H.    Penulisan makalah

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Memuat fakta-fakta atau sebab yang relevan sebagai titik tolak dalam merumuskan masalah  penulisan dan mengemukakan alasan penentuan masalah. Penulis dapat  pengutip/mengemukakan pendapat para ahli, berita melalui media massa, peraturan perundang-undangan yang mendukung terhadap fakta atau fenomena yang akan ditulis. Setiap peraturan dan perundang-undangan yang dikutip tidak ada catatan kaki, sedangkan pendapat para ahli, berita melalui media massa harus disertai catatan kaki.

B.     Perumusan Masalah

Menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa yang ingin dicari jawabannya. Perumusan masalah merupakanpertanyaan yang lengkap dan terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang dibahas, diakhir pertanyaan harus memberikan tanda tanya (?).

Tujuan dan Manfaat

a. Tujuan Penulisan: Menyebutkan secara spesifik maksud yang ingin dicapai
dalam penulisan.
b. Manfaat Penulisan: Kontribusi hasil penulisan bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN METODOLOGI PENULISAN

A.    Kajian Teoretis

Pemaparan beberapa teori ilmiah dan temuan-temuan lain yang dianggap perlu dan relevan dengan pokok masalah Setiap teori yang dikutip harus disertai penjelasan dan komentar penulis tentang kaitan teori tersebut dangan masalah. Sedangkan pada akhir dari semua teori-teori yang dikutip, penulis harus memunculkan sebuah kesimpulan terkait dengan  permasalahan.

B.     Kerangka Berpikir

Argumentasi penulis yang didasari pada teori-teori ilmiah yang telah dikemukakan dimuka. Penelitis harus menjelaskan suatu alur kerja atau saling keterkaitan antar indikator dengan permasalahan yang dibahas. Peneliti dapat untuk mengungkapkannya dapat menggunakan bantuan skema atau bagan penjelasan.


Metodologi Penulisan

1. Tempat dan waktu: jelaskan tempat/lokasi observasi dengan menyebutkan
nama perusahaan serta alamatnya, kemudian sebutkan waktu observasi
sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh masing-masing program studi.
2. Metode :
a. Sebutkan nama metode yang digunakan (misalnya: metode deskriptif
analisis).
b. Teknik pengumpulan data (misalnya: wawancara, observasi,
menggunakan kuesioner).
c. Teknik Analisis Data (misalnya: memakai rumus statistik, rumus
keuangan, atau model analisis lain seperti SWOT, EOQ, EVA, ABC).

BAB III PEMBAHASAN (judul bab ini harus sesui dengan topik yang diangkat)

A. Deskripsi Kasus

Mengidentifikasi kasus-kasus yang terdapat pada perusahaan (sesuai dengan kekhususan bidang ilmu penulis). Kasus yang diidentiftkasi di mulai dengan kasus sederhana sampai pada kasus kompleks dan rumit sesuai dengan urgensi fenomena yang diangkat pada perumusan masalah.
Kasus yang diangkat merupakan kasus yang ditemukan di perusahaan dan penulis terlebih dahulu melakukan konfirmasi dengan pihak perusahaan (guna  menjamin kesahihan kasus). Kasus-kasus yang bersifat rahasia tidak disarankan untuk dibahas oleh penulis. Kasus yang diangkat dapat berupa point-point uraian penjelasan atau berupa tabel, diagram dan sebagainya.

B. Analisis Kasus

Penulis melakukan pengkajian terhadap kasus yang dipilih sesuai urgensi permasalahan dan berusaha mengkaitkan dengan konsep teori dan temuantemuan lain yang dianggap perlu. Untuk mendapatkan solusi/pemecahan terhadap kasus yang dibahas, penulis dapat juga menggunakan model-model analisis seperti analisis SWOT, EOQ dan sebagainya sesuai kebutuhan.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
peneliti harus meyimpulkan hasil temuan dari analisis kasus dalam bentuk pointpoint penting secara jelas dan tepat (tidak boleh menulis simpulan diluar kasus yang dianalisis). Berangkat dari kesimpulan tersebut penulis memberikan saran-saran yang berguna terkait dengan kasus yang telah dianalisis (untuk jangka pendek, menengah dan panjang) terutama ditujukan kepada perusahaan yang ditulis dan kegunaannya bagi perkembangan IPTEK. Pada bab ini antara Kesimpulan dan Saran masing-masing dijadikan sub-bab tersendiri.

KUTIPAN

Kutipan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah peneliti mengambil kutipan sesuai dengan sumber aslinya. Kutipan yang tidak lebih dari tiga baris diketik dua spasi dengan cara memberikan tanda petik diantara teks yang dikutip dan diberi nomor kutipan. Kutipan yang menggunakan istilah atau bahasa asingdicetak miring dan diberi nomor kutipan Ini dapat dilihat pada contoh berikut :

Menurut Hawkins, Best dan Cooney mengemukakan pengertian sikap bahwa :“Attitude  is an enduring organizational, emotional, perceptual an cognitive process with respect tosome aspect environmental (Sikap adalah suatu organisasi yang bertahan lama dari motivasi, emosi, persepsi, dan proses kognitif dengan menghargai beberapa aspek lingkungan)”1.

CATATAN KAKI

Pencantuman catatan kaki diperlukan dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sumber referensi yang menjadi kajian peneliti. Adapun usur pokok dalam catatan kaki adalah nama penulis, judul tulisan, data publikasi (kota tempat terbit, nama penerbit, dan tahun penerbitan), serta nomor halaman. Semua sumber kutipan yang baru muncul pertama kali harus ditulis secara lengkap, sedangkan untuk pemunculan berikutnya digunakan singkatanibidop. cit, atau loc. cit. Dalam menulis catatan kaki, baris pertama harus ke dalam sebanyak 7 (tujuh) ketukan.

Ibid adalah singkatan dari ibidem, digunakan apabila sumber kutipan pertama diikuti dengan kutipan berikutnya dimana sumbernya sama, tanpa diselingi dengan sumber  kutipan lain.

Loc. cit. adalah singkatan dari loco citato, artinya yaitu tempat yang pernah dikutip. Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip (halamannya sama), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.

Op. cit. adalah singkatan dari opere citato,artinya karya yang telah dikutip (dikutip terlebih dahulu). Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah  dikutip halamannya berbeda), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.


DAFTAR PUSTAKA

Ketentuan dalam penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut :
1. Tuliskan nama pengarang, judul karangan dan data tentang penerbitannya (tempat, penerbit dan tahun)
2. Daftar pustaka disusun secara alfabetis tidak hanya huruf terdepannya tetapi juga huruf kedua dan seterusnya.
3. Daftar pustaka diketik satu spasi dan jarak antara masing-masing pustaka adalah  dua spasi.
4. Huruf pertama dari baris pertama masing-masing pustaka diketik tepat pada garis  tepi kiri tanpa ketukan (indensi) dan baris berikutnya digunakan indensi 7 karakter.
5. Apabila nama pengarang sama dan judul berbeda, maka baris pertama harus diberi garis terputus-putus sebanyak 14 (empat belas) ketukan
6. Penulisan nama pengarang diawali dengan nama keluarga, kemudian namanya. Untuk dua atau tiga pengarang, nama pengarang kedua dan ketiga tidak perlu  dibalik.
7. Penulisan nama pengarang yang bermarga cina atau mandarin, ditulis apa adanya
(tidak diindeks).
8. Jika nama pengarang sama dalam dua tahun penerbitan berbeda, maka daftar pustaka disusun menurut urutan waktu (tahun)
9. Nama pengarang sama, judul berbeda perlu diberikan garis sebanyak 14 ketukan
10. Sama sekali tidak boleh mencantumkan sumber referensi yang tidak pernah dibacadan tidak boleh mencantumkan gelar .
11. Dalam daftar pustaka/catatan kaki, tulisan yang bersumber dari majalah/ koran/makalah yang diberi garis bawah atau ditebalkan adalah nama majalah/korannya yang menerbitkan.

Contoh Penulisan Daftar Pustaka

1)      Buku

a.      Satu Pengarang

Nasoetion, Andi Hakim. Metode Statstika.Yakarta: Penerbit PT Gramedia, 1980
Turabian, Kate L. A Manual for Writers of Term Papers, Theses, and Dissertations.
Chicago: University of Chicago Press, 1980.

b.      Dua Pengarang

Kennedy, Ralph Dale dan Stewart Y. McMullen. Financial Statement: Form, AnĂ¡lisis
and Interpretation. Petaling Jaya: Irwin Book Company, 1973
Pangestu, Subagyo dan Djarwanto. Statistik Deskriptif. Yogyakarta: BPFE, 1982

c.       Tiga Pengarang

Heidirachman R., Sukanto R., dan Irawan.Pengantar Ekonomi Preusan. Yogyakarta:
Bagian Penerbitan Facultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, 1980.
Jahoda, Marie, Morton Deutsch, dan Stuart W. Cook. Research Methods in Social
Relation. New Cork: Dryden Press, 1951.

d.      Lebih Dari Tiga Pengarang

Selltiz, Claire, et al. Research Methods in Social Relations. New Cork: Holt, Rinehart &
Winston, 1959
Sukanto, et al. Business Forecasting. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Facultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, 1980.












DAFTAR PUSTAKA

-          Barus, Sanggup . 2014. Pendidikan Bahasa Indonesia . Medan : Unimed Press
-          Burhan, Jazir & Misdan, Undang. 1980. Bahasa Indonesia Program Spesialisasi Semester V dan VI . Jakarta: Mutiara
-          Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: ANDI
-          Tanjung, H. Bahdin Nur & Ardial, H. 2005 .  Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Proposal, Skripsi, dan Tesis) dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel Ilmiah. Medan: Kencana
-           Suyitno, H. Imam. 2011. Karya Tulis Ilmiah (KTI) . Malang: Refika Aditama.
-          http://postingan-all.blogspot.com/2012/11/perencanaan-penulisan-karangan-ilmiah.html

(Diakses pada Minggu 07- September 2014 )